CRASH

Dengan berbagai mental baggage dan diagnosa kesehatan mental yang ngeri-ngeri sedap, saya menuliskan ini sebagai jurnal.

Tahun ini, setelah sekian lama tidak mengalami episode manik yang cukup parah, akhirnya saya mengalaminya lagi. Sudah 7 tahun sejak manik terhebat saya alami. Dengan sistem, edukasi dan kemampuan regulasi; kemampuan ini pun tidak cukup untuk menghadapi badai psikosis yang saya idap. Satu yang paling saya takutkan ketika fase manik lewat, adalah momen: CRASH.

Ketakutan menghadapi fase setelah manik yang hebat, membuat saya membangun jaring-jaring pengaman, namanya support system. Kapan saya harus bicara terbuka, kapan harus menarik diri dari dunia digital, dan kapan harus berdialog dengan diri sendiri, dan terutama… kapan harus menemui psikiater.

Sesuatu terjadi setelah episode manik hebat, sebuah momentum penurunan drastis dari manik ke depresi. Tubuh dan pikiran terutama, jadi mudah lelah, ini terjadi dengan sangat ekstrem. Rasa bersalah karena perilaku impulsif selama mania, dan mulai melakukan beragam mekanisme pertahanan diri semodel mengisolasi diri secara sosial. Saya mulai tidur berlebihan, tidak bertenaga, dan kehilangan minat pada aktivitas rutin biasanya.

Punya penyakit bawaan mental begini, mau tidak mau membuat saya lebih hati-hati dan waspada, karena tidak pernah tahu kapan badai  itu bakal datang.

Ketika badai psikosis ini lewat, yang tersisa kadang berupa penyesalan, apalagi jika kejadian dibarengi dengan sabotase diri atau menyakiti tubuh sendiri. Biasanya setelah fase mania selesai, yang terjadi adalah kondisi menekuri diri yang cukup berat, memicu rasa putus asa, dan lelah mental fisik yang berakibat pada relasi dengan manusia lain.

Lalu saya belajar, kalau penerimaan adalah kit pertama yang bisa dilakukan. Menyadari kalau mental ini punya kecenderungan destruktif. Alih-alih memaksakan tubuh untuk kembali produktif atau menyelesaikan segala pekerjaan sesuai tenggat waktu—yang saya buat ketika mania. Saya lalu… melambat. 

Pengaturan ritme ini menjadi sangat krusial. Jika ada hari-hari dengan energi meletup-letup, tentu ada momen kita tumbang. Dan di waktu-waktu itu, amat sangat tidak apa-apa kalau yang kita lakukan cuma bangun, minum air putih, lalu kembali duduk dan diam. Sangat tidak apa-apa kalau cuma itu yang jadi pencapaian tertinggi kita di minggu ini. 

Obat-obatan dari dokter tidak semata jadi konsumsi medis, tapi juga jangkar penyelamat ketika sudah merasa sangat putus asa, kamu… jangan sungkan untuk minum. Itu sama sekali tidak menandakan kamu kalah.

Di fase-fase keterdiaman ini, hal-hal mendasar memang bakal jadi pertahanan utama. Memastikan jam tidur konsisten dan memaksa diri menyingkirkan gawai kalau sudah saatnya tubuh minta istirahat. Meniadakan konsep ‘asumsi’ dan menilai segala sesuatu secara personal. Apa yang bekerja di kepalamu, bukan hal personal, tak ada hubungannya denganmu. Kamu cuma lagi mengalami badai kimiawi otak.

Dengan menjalani ini, dengan tenang dan legowo, cukup membantu otak saya yang sudah lelah bekerja keras, untuk akhirnya betulan istirahat. 

Termasuk dengan memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh: porsi-porsi kecil makanan cukup gizi dan air putih dengan rajin dikonsumsi, saya dan kamu butuh tenaga untuk mengurai isi kepala. 

Sebagai seseorang yang kerjanya menggunakan diksi dan lema, serta rangkaian proses berpikir kritis, tentunya hal-hal begini cukup jadi gangguan signifikan. Menulis di fase ini tak lagi ditujukan untuk pembacaan publik, sesederhana meringkas rumitnya isi kepala jadi jurnal emosi harian. Catatan-catatan sederhana tentang apa yang dirasakan tubuh dan pikiran, menjadi kompas bagi psikiater untuk mengevaluasi terapi. 

Sering kali, saat menghadapi orang-orang di sekeliling, rasanya saya seperti disadarkan kalau disiplin merawat diri pasca-mania ini bukan sekadar urusan pribadi, tapi upaya agar saya bisa kembali membersamai mereka yang dikasihi.

Saya mahfum, sekuat apa pun kita mencoba berdisiplin secara internal, fase crash ini nyaris mustahil dilalui tanpa ekosistem penyangga yang mumpuni. Sering kali, bentuk dukungan terbaik dari orang terdekat justru bukan berupa nasihat panjang lebar, apalagi adu nasib, tapi lewat hadir, mendengar, tanpa penghakiman.

Saya merasakan betul betapa berartinya ketika support system di sekeliling saya tidak memaksakan interaksi sosial saat saya butuh menarik diri dari dunia luar. Mereka memberikan ruang untuk menyendiri, namun dengan kesadaran penuh untuk tetap memantau dari jauh—selalu waspada terhadap tanda-tanda bahaya, jikalau isolasi ini perlahan berubah jadi sesuatu yang mengancam. Kepedulian itu maujud dalam bantuan-bantuan praktis yang meringankan beban raga. 

Tentu saja, membersamai seseorang yang sedang merasa hancur, tidaklah mudah. Saya lalu sadar bahwa mereka yang mendampingi juga harus menetapkan batasan emosional dan mengambil waktu untuk beristirahat. Sebab pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa terus menjadi sandaran, tanpa edukasi dan pemahaman. Dan terutama tanpa berdamai dengan diri sendiri.

Menulis esai dan fiksi. Founder Melihat Lebih Jernih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *