Teruntuk Anggrek yang Sedang Patah

Pernahkah kamu merasa patah tepat ketika sedang berjuang sekuat tenaga untuk mekar?

Aku tulis surat ini sesaat setelah melihat tangkaimu patah di pekarangan tetangga. Sebelumnya, tidak pernah kudapati kamu begini adanya. Kemarin saja, kamu masih nampak riang di hadapan kupu-kupu. Masih tegak menantang matahari. Aku tidak tahu tragedi apa yang menimpamu semalam. Apakah empasan angin yang terlampau kencang, kepakan burung yang ceroboh, atau guyur hujan yang memeluk tubuh ringkihmu terlalu erat? Entahlah. Apa pun sebabnya, tubuhmu kini terlipat, menunduk. Ada getah bening yang perlahan merembes di ruas batangmu. Ada ngilu yang barangkali sudah terlampau sulit untuk kamu utarakan.

Melihatmu terkulai lemas, ingatanku melayang pada bunga-bunga lain di sekitarku, bunga-bunga yang juga patah. Bentuk lukanya macam-macam, tapi perihnya aku yakin tidak jauh berbeda. Ada bunga kertas yang tiba-tiba kehilangan pijakan karena tumpuannya pergi. Ada bunga pentas yang akarnya mendadak diputus, dibiarkan mengering tanpa kepastian hari esok. Ada bunga melati yang layu karena dikhianati oleh tempat yang selama ini mereka yakini sebagai rumah paling aman. 

Patah yang mereka alami sama sunyinya dengan patah yang kamu rasakan. Sering kali, ketika dunia melihat sesuatu yang hancur, reaksi pertamanya adalah menuntut hal itu segera utuh. Mungkin begitu juga orang-orang berteriak kepadamu. “Ayo, pasti bisa berdiri lagi,” atau “Jangan patah terlalu lama.” Dunia ini berlari terlalu cepat dan egois. Waktu jarang mau repot-repot berhenti sebentar menemani mereka yang tertinggal memunguti kepingan dirinya sendiri.

Tapi tenang saja, aku tidak akan memintamu buru-buru sembuh. Aku tahu anggrek tumbuh dalam kelambatan: butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk memunculkan satu kuncup. Luka sekecil apa pun tentu butuh waktu untuk kembali merapat. Kamu punya hak penuh untuk luruh, diam, dan merasakan perih itu. Kamu tidak perlu berpura-pura utuh saat sebagian dirimu baru saja direnggut. Berhentilah merasa bersalah karena tidak terlihat kuat hari ini. Ingatlah bahwa kamu tidak berutang mekar kepada siapa pun. Kamu hanya berutang hidup pada dirimu sendiri.

Kamu boleh percaya, seburuk apapun kejadian semalam, sekeliling tidak pernah benar-benar membiarkanmu merawat luka sendirian. Menjadi patah memang sangat personal: hanya kamu yang tahu seberapa sakit luka yang ditimbulkan. Namun proses menyembuhkan selalu melibatkan kawan terdekat yang seringkali lupa kita indahkan.

Lihatlah pohon inang tua tempatmu bersandar. Ia memang tidak punya sepasang tangan untuk menarikmu tangkaimu berdiri, tapi kulit kayunya yang kokoh memastikan akarmu tetap punya pegangan agar tidak jatuh terjerembap. Ada pula lumut-lumut tipis di pangkalmu. Mereka diam-diam menampung embun, menyimpannya agar kamu tidak kehausan ketika matahari datang menyengat. Bahkan kabut pagi hadir untuk membasuh debu di daunmu, memberi kesejukan di tengah perih yang menderu.

Bukan salahmu ketika tidak menyadarinya. Kita sering dididik oleh kerasnya dunia bahwa untuk bertahan hidup, kita harus tangguh sendirian. Padahal, kehidupan tidak semestinya sekejam itu. Selalu ada ekosistem yang bisa diandalkan untuk saling menjaga, saling merawat. 

Dan merawat adalah pekerjaan yang sunyi, lambat, dan penuh kesabaran. Persis seperti kulit pohon, lumut, ataupun kabut itu. Mereka tidak banyak bicara atau memberi nasihat yang tak kamu minta. Mereka hanya menyediakan ruang tempatmu boleh menjadi lemah tanpa takut dihakimi. Kesembuhan tidak pernah dimulai dari paksaan untuk kuat, melainkan dari rasa aman. Kita bertahan hidup karena kita saling merawat dalam kerapuhan.

Kawanku, anggrek, tahukah kamu apa yang perlahan akan terjadi di balik tangkaimu yang patah?

Luka adalah cara semesta membuatmu menjadi lebih kuat. Tentu, tangkaimu tidak akan pernah kembali lurus sempurna seperti sedia kala. Bekas patahan itu akan selamanya mengubah bentukmu. Kamu mungkin akan tumbuh sedikit membengkok.

Tapi ketahuilah, pelan-pelan, sel-sel di batangmu akan membelah dan merajut kembali jaringan yang koyak. Jaringan baru akan tumbuh, menciptakan pelindung tebal bernama kalus. Ya, bagian yang menebal dan menyimpan bekas luka itu justru akan menjadi titik paling keras di tubuhmu. Empasan angin, kelopak buruk, atau badai yang sama kelak tidak akan sanggup mematahkanmu lagi di titik tersebut.

Ini bukan berarti kita memuja luka. Kalau bisa memilih, tentu kita semua lebih suka tumbuh utuh tanpa dilanda rasa kecewa. Tapi karena patah adalah risiko dari makhluk bernyawa, maka yakinlah bahwa kemampuan untuk menjadi lebih kuat adalah bagian daripadanya.

Oh, aku jadi teringat, pernahkah kamu mendengar kalimat “yang patah tumbuh, yang hilang berganti”?

Melihatmu berjuang hari ini, aku memahaminya dengan lebih menjejak. Kalimat itu bukan sulap instan: setiap ada yang direnggut, besoknya langsung diganti dengan yang baru. Bukan sama sekali. Kalimat tersebut adalah tentang daya juang di dalam setiap yang bernyawa. Yang patah pasti tumbuh, tapi prosesnya menuntut waktu, air mata, dan penerimaan yang berdarah-darah. 

Dan yang hilang memang berganti, tapi penggantinya tidak akan sama persis dengan yang pergi. Bekas luka dari patahanmu membawa bentuknya sendiri. Ruang itu nantinya mengeras diisi oleh kedewasaan, keikhlasan, atau ketenangan karena akhirnya kita sanggup berdamai dengan kenyataan.

Untuk anggrek dan bunga-bunga lain yang sedang patah, hari ini mungkin seperti akhir dunia. Tidak apa-apa merasa begitu. Habiskan saja rasa kecewa dan air getahmu hari ini. Rasa sedih yang dipaksa sembunyi hanya akan membusuk dan meracuni akar. Biarkan semua tumpah ruah sampai kembali lapang. Nanti, seiring berganti hari, kamu akan mendapati: patah di satu tangkai tidak berarti seluruh pohon kehidupanmu mati. Selama akarmu masih memeluk kehidupan, kamu masih berhak atas udara, embun, dan matahari esok hari.

Teruntuk anggrek yang dicintai semesta, kendati tangkaimu patah, aku tidak akan mengikatmu pada kawat penyangga, kamu harus merajut kepinganmu dengan kekuatanmu sendiri. Tapi aku berjanji akan duduk bersandar di bawah pohon ini. Jangan sungkan untuk menyapaku, sekadar cerita atau bahkan meminta bantuan. Aku akan mencoba sesanggup yang aku mampu untuk memenuhi kebutuhanmu.

Beristirahatlah, kawan. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu memilih berhenti mekar sejenak. Esok, lusa, atau bulan depan, saat kamu sudah siap, masa depan yang indah di antara rimbun daun ini masih akan setia menunggumu. Sampai saat itu tiba, nikmatilah dekapan lumut dan dahan tua ini serta juga embun pagi. 

Yang patah akan tumbuh, dengan cara dan waktunya sendiri. Tumbuhlah nanti, tumbuhlah perlahan, dan tumbuhlah seutuhnya.

Ilustrasi @saythespell

Pekerja media. Dapat dihubungi melalui email tofan.aditya20@gmail.com


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *