Bagaimana Lagu-Lagu Perunggu Memeluk Lelahnya Kehidupanku 

Sebenarnya, aku bukanlah penikmat musik fanatik, apalagi dengan lagu-lagu berlirik melankolis. Selama ini, aku cenderung menghindari musik yang berisi keluhan, rasa lelah, atau kekecewaan karena merasa hal itu bisa memengaruhi suasana hatiku. Musik memang dapat membantu mengatur emosi, tetapi selalu ada dua kemungkinan: mendengarkannya lalu merasa lebih lega, atau justru semakin tenggelam dalam pikiran yang sedih.

Namun, pandanganku perlahan berubah setelah aku mengenal konsep emotional resonance (resonansi emosional), yaitu ketika suatu karya terasa selaras dengan pengalaman emosional kita. Hal inilah yang belakangan ini aku rasakan terhadap sebuah band rock Indonesia, Perunggu. Akhir-akhir ini, aku sangat sering memutar lagu-lagu mereka. Walaupun belum pernah menonton konsernya secara langsung atau hafal seluruh diskografinya, lagu-lagu seperti “33x”, “Ini Abadi”, “Gemilang”, dan “Pikiran Yang Matang” terus terngiang di kepala.

Awalnya, aku mendengar lagu mereka secara sepintas melalui radio mobil dan beberapa unggahan acak di Instagram. Karena sering mendengarnya, perlahan aku mulai menghafal beberapa bait liriknya. Lirik-lirik tersebut terasa begitu deep hingga mendorongku untuk mendengarkan versi penuhnya. Saat mendengarkan lagu-lagu Perunggu, aku merasa seperti sedang mendengar seseorang menceritakan kehidupan pribadiku, atau mungkin kehidupan kita semua sebagai kelas pekerja. Liriknya sederhana, tetapi sangat relevan dengan mimpiku, hubungan asmara, hingga karier.

Contohnya, ada bait dalam lagu “Pikiran Yang Matang” yang berbekas bagiku:

Hey

Kau pernah sita semua waktuku

Dan tak kembalikan satupun

Hidupmu biar kau yang tahu

Banyak yang butuhkan perhatianku

Entah kenapa, lirik ini seperti menggambarkan diriku di masa lalu yang sempat terjebak dalam kecemasan dan overthinking. Rasanya sangat bersyukur kini aku sudah bisa mengurai semua kecemasan dan kebingungan tersebut. Lagu ini menjadi pengingat sekaligus penutup bagi diriku yang dulu.

Lalu, ada lagu “Gemilang” yang mungkin menjadi lagu favoritku dalam beberapa bulan terakhir. Aku sangat menyukai lirik ini:

Pasti doamu yang lancarkan upayaku

Mesti doa yang meluncur dari bibirmu

Dan yang kutahu kau takkan pernah berhenti

Tumbuhku kini semoga sesuai yang kau impi

Tertulis jelas namaku

Di setiap harap malammu

Tentang masa depan, tentang masa terang

Warisan akal budi gemilang

Bagiku, lagu tersebut adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih untuk ibuku yang selalu mendukung dan mendoakanku di belakang layar atas setiap keputusan dan mimpi yang kupilih.

Di pertengahan tahun 2026 ini, lagu “Ini Abadi” juga menjadi teman setiaku. Liriknya secara utuh menggambarkan kebingunganku tentang karier, dinamika hubungan, serta kelelahanku sebagai orang Bandung yang harus bekerja bolak-balik Bandung–Jakarta. Semuanya terasa begitu tepat sasaran.

Sementara itu, pada awal tahun ini aku banyak mendengarkan lagu “33x”. Judulnya saja sudah unik; sebagai seorang muslim, angka 33 tentu sangat familier karena identik dengan jumlah pengulangan zikir. Lirik lagu ini sangat relevan untuk mereka yang sedang berada di fase krisis seperempat abad (quarter-life crisis)—menggambarkan kehidupan yang rasanya seperti terjebak (stuck) atau tertinggal dari orang lain.

Ada kalanya seseorang tetap menjalankan aktivitas, memikirkan masa depan, mengejar target, dan berusaha terlihat baik-baik saja, padahal secara emosional ia merasa sangat lelah. Lagu-lagu yang membicarakan perjuangan, rutinitas, harapan, atau beban kehidupan pada akhirnya bisa terasa sangat dekat dengan keadaan tersebut. Musik bisa membantu kita mengenali perasaan seperti kecewa, cemas, kesepian, kehilangan arah, atau lelah menghadapi tuntutan hidup.

Melalui lagu-lagu Perunggu, aku merasakan sebuah kelegaan. Pada akhirnya kita menyadari satu hal: terkadang, kita tidak selalu membutuhkan nasihat atau solusi. Kita hanya ingin merasa bahwa apa yang kita alami itu nyata, dan bahwa kita tidak sendirian menghadapinya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *