Poster Empat Musim Pertiwi terpampang memenuhi layar gawai,
Film itu segera tayang,
Namun, si gadis membeku,
Tak beranjak menuju bioskop beken,
Jubah performatifnya ditandang,
Dari mengulas sosio-teoritis bak si maha sineas.
Sukma itu tercerabut,
Tercabik-cabik dari welas asih,
Sudikah disebutnya tetap suci?
Oh, sayang.
Malangnya, si sayang.
Dari perasa, perkasa, atau perkosa?
Aduh, kabur sekali.
Jangan, jangan bertanya lebih lanjut.
Jangan pula kau sentuh dirinya.
Si gadis itu tetap sibuk diselimuti hijab,
Menutupi kerakan lumpur kotor,
Walau remahan tercecer dari singkapan angin.
Bandung, 7 Oktober 2026.
—
Ilustrasi oleh Spicamc70
