Aku berusia sembilan belas tahun, usia ketika sebagian besar teman dan remaja sebayaku mulai mengenal dunia percintaan dengan cukup serius. Dari media sosial, aku sering melihat teman-temanku mengunggah foto bersama pasangan mereka. Aku melihat semua kemesraan itu dari layar ponselku—senyum mereka di kedai kopi, kejutan ulang tahun yang manis, hingga sekadar pegangan tangan di dalam mobil. Kadang, aku merasa iri melihatnya. Di dalam hati, muncul sebuah keinginan sederhana untuk melakukan hal yang sama, “Aku juga ingin merasakan hal seperti mereka.”
Aku akui bahwa aku bukanlah tipe perempuan yang mudah bergaul. Lingkaran pertemananku tidak banyak, apalagi teman laki-laki; jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Jadi, aku rasa tidak akan mudah bagiku untuk mendapatkan kekasih secara alamiah di dunia nyata. Di tengah rasa sepi yang mengendap pada suatu malam, sebuah ide di kepalaku tiba-tiba muncul, “Apa aku mengunduh aplikasi kencan saja, ya? Sepertinya itu akan memudahkanku untuk mengenal laki-laki baru tanpa harus keluar dari zona nyamanku.”
Akhirnya, aku mengunduh sebuah aplikasi kencan. Sesederhana itu. Ya, cukup satu aplikasi kencan. Satu akun, beberapa lembar foto profil, dan sebuah biodata singkat. Dan tanpa kusadari, satu keputusan kecil malam itu akan menjadi awal dari sebuah rentetan cerita yang membuat hidupku—setidaknya duniaku pada saat itu—terasa hancur.
Berbagai macam laki-laki berkenalan denganku dari aplikasi tersebut, menyapaku dengan ragam basa-basi yang sebagian besar terasa artifisial, tetapi semuanya cukup menarik bagi perempuan yang sedang kesepian sepertiku. Hingga akhirnya, di antara begitu banyak orang yang datang dan pergi di layar ponsel, aku menemukan “dia”.
Setelah obrolan panjang yang intens melalui pesan teks dan telepon hingga larut malam, kami memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran. Aku pun mengira ikatan itu adalah jawaban dari penantian panjangku. Setelah sekian banyak orang yang sekadar singgah lalu pergi, akhirnya ada seseorang yang memilih untuk menetap dan bersamaku. Aku merasa berhasil. Aku merasa bangga karena kali ini aku tidak gagal dalam urusan hati, layaknya remaja normal lainnya.
Namun, perlahan aku menyadari bahwa kebahagiaan yang kurasakan tidak sepenuhnya seperti apa yang ada di bayangan. Suatu hari, di tengah kebersamaan kami, ia dengan berani meminta untuk mengecup bibirku. Itu adalah kali pertama aku dihadapkan pada situasi intim seperti itu. Aku ragu dan hati kecilku tak setuju, namun ia terus membujuk dengan kata-kata manis yang manipulatif. Hati kecilku ingin berteriak dan mengatakan tidak, tetapi ada ketakutan yang jauh lebih besar bersarang di dalam kepalaku: Bagaimana jika ia marah? Bagaimana jika ia kecewa? Bagaimana jika setelah aku menolak, ia memilih pergi seperti orang-orang sebelumnya?
Akhirnya, aku memilih takluk. Aku lebih sering mengalah dan membungkam apa yang sebenarnya kurasakan. Meski pada akhirnya aku masih bersyukur karena kehormatanku yang paling dalam tidak sampai direnggut olehnya, batas pribadiku telah telanjur dilanggar.
Seiring berjalannya waktu, perasaan bersalah itu tumbuh semakin berat dan mencekik. Kami akhirnya berpisah, bukan karena sebuah pertengkaran hebat, melainkan karena hubungan yang dibangun di atas fondasi ketakutan dan kepura-puraan tak akan pernah bisa bertahan lama. Setelah ia pergi, aku ditinggalkan bersama gema traumatis dari kejadian-kejadian itu. Setiap kali menatap bayanganku di cermin, aku bertanya kepada diriku sendiri dengan penuh penyesalan, “Kenapa aku membiarkannya melewati batasku?”
Aku menyalahkan diriku sendiri atas keputusan yang kuambil ketika sebenarnya aku sedang berada dalam situasi penuh tekanan psikologis. Yang paling menyakitkan bukan hanya kejadian pemaksaan itu sendiri, tetapi bagaimana aku kemudian memandang diriku. Aku merasa kotor, hina, dan tidak berharga. Aku merasa seolah-olah satu keputusan lemah di masa lalu telah mengubah seluruh pandanganku terhadap diriku sendiri, menanggalkan semua harga diriku.
Hubungan singkat itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menorehkan luka panjang dalam rekam jejak pikiranku. Aku tidak lagi melihatnya sebagai kisah cinta yang indah seperti ketika pertama kali kami bertemu dan bertukar pesan manis. Aku justru melihatnya sebagai perjalanan kelam yang memaksaku mengenal sisi diriku yang selama ini tidak pernah kusadari—sisi yang penuh ketidakamanan dan rasa haus akan validasi. Namun, semakin aku belajar memahami ruang batin diriku sendiri, semakin aku sadar bahwa aku tidak seharusnya menghukum diri ini selamanya. Ada titik di mana tangisan di tengah malam harus dihentikan dan diganti dengan pelukan untuk diri sendiri.
Kisah ini bukan sekadar tentang seseorang yang kutemui melalui sebuah aplikasi kencan. Kisah ini adalah tentang bagaimana dahsyatnya keinginan untuk dicintai dapat membuat seseorang menjadi buta dan mengabaikan suara nuraninya sendiri. Pengalaman tersebut memang meninggalkan luka yang menganga. Namun, aku tidak ingin menjadikannya sebagai sumur penyesalan tanpa dasar, dan bukan pula sebagai alasan untuk terus-menerus membenci diriku sendiri.
Aku bukan perempuan hina! Aku hanya seorang manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan, pernah merasa sangat takut akan kesendirian, pernah kehilangan arah, tetapi kemudian memilih untuk berusaha belajar dan bangkit dari keterpurukan.
Pada akhirnya, proses panjang dalam memahami dan memaafkan diri sendiri telah membantuku menyadari bahwa aku tidak harus terus-menerus dihukum oleh bayang-bayang masa lalu. Kesalahan, keraguan, dan pengalaman buruk di usia belasan itu tidak menentukan seluruh nilai diriku sebagai seorang perempuan. Dengan menerima kenyataan atas apa yang telah terjadi, menyadari pentingnya menjaga batasan diri, dan belajar menghargai perasaan diri sendiri, aku perlahan mampu membangun kembali puing-puing kepercayaan terhadap diriku. Luka dari masa lalu mungkin akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku, tetapi luka tersebut sama sekali tidak berhak menentukan masa depanku.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar ingin belajar mencintai diriku sendiri dengan utuh, tanpa harus menunggu seseorang datang hanya untuk membuktikan bahwa aku pantas dicintai!
