Ketenangan sebagai Superpower di Zaman Super Rudet

Pada Olimpiade Seoul 1988, Ben Johnson menghenyakkan target banyak orang. Ia menembus batas 10 detik—batas yang tadinya manusia anggap mustahil—dalam lari 100 meter. Catatan waktunya: 9,79 detik. Manusia, untuk pertama kalinya, seolah berhasil menipu waktu.

Belakangan kita tahu, rekor itu runtuh bukan hanya karena sprinter lain lebih cepat, tetapi juga karena fakta doping yang mencemari pencapaiannya. Namun waktu terlanjur tercatat. Sejak saat itu, angka “sembilan detik” menjadi arena obsesif para pelari dalam mencapai catatan prestasi. Usain Bolt, Asafa Powell, dan sprinter kelas dunia lain berlomba-lomba memangkas sepersekian detik. Dari 9,7 menjadi 9,6. Dari 9,6 ke 9,58. Setiap milidetik dirayakan sebagai kemenangan menjadi manusia supercepat.

Dengan pikiran agak nakal, saya kemudian berpikir begini, sampai pada angka berapa rekor kecepatan manusia akan terus dipecahkan? Secara rasional, pasti ada batas biologis. Otot, tulang, paru-paru, dan sistem saraf punya ambang batas, tentunya. Setelah itu, rekor akan berhenti pada batas biologis yang bisa dicapai manusia. Setidaknya, begitulah logika sains bekerja. 

Tapi bagaimana jika logika itu kita ubah agak nyeleneh sedikit? Jika rekor terus dipecahkan tanpa henti, akankah suatu hari tercapai angka satu detik? Dan jika satu detik terlewati, akankah kita masuk ke angka nol? Atau—ini bagian paling absurd—minus satu detik? Bayangkan lomba lari yang pesertanya sudah sampai garis finish sebelum pistol start ditembakkan. Belum mulai, sudah sampai garis akhir (masih ingat serial The Flash?).

Saya tidak sedang bicara soal lomba lari, apalagi ajang olimpiade. Mari kita merenung soal waktu itu sendiri, soal apa yang membuat manusia hari ini merasa dikejar-kejar sesuatu.

Fisika modern menyebut waktu tidak berdiri sendiri. Ia selalu berpasangan dengan ruang. Ketika ruang memuai, waktu ikut memanjang. Ketika ruang menyempit, waktu pun turut mengerut. Waktu bukan semata detak tiktok di jam dinding ruang tamu kita, melainkan sesuatu yang lentur, relatif, dan bisa terasa cepat atau lambat tergantung bagaimana kita bergerak di dalamnya.

Menariknya, pengalaman hidup sehari-hari manusia justru membuktikan hal serupa—kita tidak perlu jadi cerdas soal teori relativitas untuk memahami ini. Ketika hidup terasa sempit oleh tekanan ekonomi, politik yang mengimpit dada sampai megap-megap, dan arus informasi bergerak menghajar kita tanpa jeda—tanpa istirahat sama sekali—waktu terasa lebih cepat. Hari terasa pendek, seminggu tahu-tahu bak sejentik jari, tahun berlalu tanpa kita sadari—apalagi nikmati. Sebaliknya, saat hidup sedikit lebih lapang dan tenang, waktu rasanya seperti melambat. Kita bisa duduk damai, berpikir, dan bernapas tanpa dikejar-kejar harus tahu info ini itu, tanpa notifikasi yang mengganggu jadwal bobok siang kita—sungguh mewah.

Masalahnya, kita hidup di zaman yang betul-betul terobsesi akan kecepatan. Ekonomi di negara ini menuntut pertumbuhan cepat, kalau tidak kita tidak akan kebagian jatah. Politik menuntut respons cepat, kalau tidak, keamanan tidak akan terjamin. Media menuntut reaksi cepat untuk kita jawab, untuk kita beri tanda jempol meski tak paham. Bahkan emosi pun dituntut untuk lebih cepat memunculkan respons: cepat marah, cepat tersinggung, cepat bereaksi. Sedikit lambat dianggap sebagai orang yang kalah. Tenang sering disalahpahami sebagai ketidakpedulian, tak acuh pada sekitar.

Di sinilah, rasanya ketenangan menjadi sesuatu yang radikal, bahkan mewah—boleh dibilang sedikit subversif.

Orang-orang Stoa (bukan generasi Filosofi Teras) sejak lama mengingatkan bahwa tidak semua hal layak ditanggapi dengan kecepatan merespons. Epictetus bilang begini: “It’s not what happens to you, but how you react to it that matters.” Dunia itu khitah-nya memang selalu berisik, tetapi reaksi kita terhadap masalah tetap kita sendiri yang menentukan. 

Begitu pun yang diungkap oleh great eyang, Marcus Aurelius. Seorang kaisar yang hidup di tengah perang dan intrik politik kala itu, dia bilang mirip-mirip begini: “You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.”

Ketenangan—in this era, bukan sekadar sikap pasif. Ia bukan sikap menyerah dari si pengalah. Ia justru bentuk kendali paling tinggi, sebuah kemampuan untuk tidak terseret oleh arus yang ingin menyeret kesadaran semua orang sekaligus.

Dalam konteks ekonomi makro belakangan ini atau sering kita sebut: in this economy—harga naik, pekerjaan tidak pasti, masa depan mampret—ketenangan memungkinkan seseorang membedakan mana kecemasan yang perlu direspons, dan mana yang cuma berupa noise. Dalam politik yang kian rumit model sekarang— dan bikin emosi, ketenangan membantu kita berpikir sebelum misuh-misuh. Dalam arus informasi yang begitu cepat, ketenangan memberi jeda sebentar, baca dulu sebelum membagikan informasi, mencerna dulu sebelum menyimpulkan pretensi.

Balik lagi ke mereka yang Stoa, Seneca bilang, “No man is more unhappy than he who never faces adversity. For he is not permitted to prove himself.” Di era media sosial hari ini, penderitaan imajiner orang-orang terjepit seperti kita, berkembang dengan sporadis. Ketenangan jadi berfungsi ganda seperti rem tangan: ia tidak menghentikan laju hidup kita sepenuhnya, tetapi mencegah kita menabrakan diri ke tengah tembok kebijakan-kebijakan yang makin absurd.

Jika kecepatan adalah simbol peradaban modern, maka ketenangan adalah counterculture-nya. Ia memang tidak mudah terlihat efeknya. Namun justru karena itulah ia menjadi superpower. Di tengah dunia yang berlomba menjadi Ben Johnson—ingin tiba lebih dulu dengan lebih cepat—orang yang mampu melambatkan pikirannya punya keunggulan strategis, karena ia diberi waktu untuk memikirkan taktik dan kekuatan.

Ketenangan membuat seseorang bisa melihat pola ketika orang lain hanya melihat chaos. Ia memberikan sebuah jeda jarak pada peristiwa dan reaksi. Dan dalam jarak itulah kebijaksanaan akan tumbuh seiring waktu.

Barangkali, seperti rekor lari manusia, kecepatan hidup ini punya batas daluwarsa. Kita tidak bisa terus memampatkan waktu tanpa merusak otak kita yang segini-gininya. Jika ruang hidup kita semakin menyempit oleh tekanan (negara, kebijakan, keluarga), maka waktu subjektif kita akan semakin mengerut. Ketenangan adalah cara memperluas kembali ruang itu—bukan dengan menambah jatah waktu, tetapi dengan mengubah cara agar tetap bisa hadir dengan eling di dalamnya.

Dan mungkin, alih-alih bertanya seberapa cepat kita bisa berlari, pertanyaan yang lebih relevan hari ini adalah: seberapa tenang kita bisa tetap hidup dan bernapas ketika semua orang sibuk mencapai sesuatu yang menjadi target setiap tahun?

Di dunia yang inovasi percepatannya nyaris mencapai “minus satu detik”—belum aja mulai sudah dituntut finish—ketenangan bukanlah kekalahan. Ia adalah bentuk keberanian paripurna. Sebuah keputusan sadar untuk tidak selalu menjadi si paling cepat dan si paling progresif, cukup menjadi seseorang yang berusaha waras untuk dirinya sendiri.

Menulis esai dan fiksi. Founder Melihat Lebih Jernih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *