Kita tumbuh di budaya yang gemar mengulang kalimat klise tentang cinta yang “habis” di hubungan lama. Budaya yang dengan mudah menyederhanakan relasi menjadi cerita tentang kapasitas emosi, luka di masa lalu, dan kegagalan move on sebagai kekurangan individu. Seolah-olah cinta adalah sumber daya terbatas yang, jika salah kelola di masa lalu, akan menyisakan trauma.
Aku tidak pernah benar-benar merasa cocok dengan narasi itu. Bukan karena hidup relasiku selalu baik-baik saja. Justru karena aku pernah berada di titik di mana hubungan berakhir dengan banyak kebingungan, penyesalan, dan versi diri yang belum matang. Namun dari sana aku belajar satu hal yang jarang dibicarakan secara jujur: bahwa berakhirnya sebuah hubungan tidak otomatis berarti seseorang gagal dalam hidupnya.
Yang sering bikin trauma justrau cara kita memandang kegagalan. Aku memandang hubungan sebagai sebuah perjalanan. Ada hubungan yang memang sudah seharusnya berakhir.
Ada hubungan yang selesai karena perspektif kita tumbuh ke arah yang berbeda. Dan ada hubungan yang berhenti karena kita belum tahu bagaimana mencintai dengan cara yang tidak menyakiti diri sendiri maupun pasangan.
Semua itu manusiawi. Tapi budaya kita jarang memberi ruang untuk kompleksitas itu.
Cinta, Move On, dan Tekanan untuk Selalu “Selesai”
Dalam banyak percakapan, move on diperlakukan sebagai indikator kesehatan mental dan moral. Siapa yang masih membawa cerita lama dianggap gagal move on. Siapa yang terlalu hati-hati menghadapi kehidupan baru, akan dilabeli trauma. Siapa yang mencintai lagi dengan cara yang sama di masa lalu sering dilabeli “belum sembuh betul” dari hubungan lama.
Di balik itu, ada standar sosial yang jarang diungkap: bahwa relasi ideal adalah relasi yang datang dari individu-individu yang sudah bisa move on. Tidak ambigu. Tidak membawa sisa-sisa masa lalu.
Masalahnya, cara berpikir manusia terhadap afeksi tidak bisa disederhanakan dalam cara pandang yang sempit. Aku tidak percaya bahwa seseorang tidak boleh trauma terlebih dahulu untuk bisa mencintai lagi dengan paripurna.
Yang lebih penting adalah kesadaran tentang apa yang dibawa, dan keberanian untuk tidak menjadikan pasangan baru sebagai tempat pelampiasan.
Ada perbedaan besar antara gagal move on dan sudah sanggup berdamai dengan masa lalu.
Aku tidak membawa masa lalu ke hubungan baru dalam bentuk trauma yang kontekstual. Bukan karena masa lalu itu tidak penting, tetapi karena tidak semua pengalaman bisa digeneralisir untuk masa depan. Pasangan tak harus menjadi pusat beban emosional.
Dari Relasi Personal ke Pola Sosial
Narasi bahwa cinta yang gagal move on tidak semata-mata lahir begitu saja. Ia tumbuh dari konsensus budaya yang jarang membela konndisi emosi seseorang: kita dituntut cepat sembuh, cepat bangkit, cepat stabil. Dalam logika ini, relasi dinilai dari seberapa tangguh ia terlihat di mata publik. Bukan dari seberapa jujur atau bertanggung jawab proses ia move on menghadapi trauma hubungan di masa lalunya.
Ada juga kecenderungan untuk mempersonalisasi kegagalan relasi, tanpa pernah melihat struktur yang membentuknya. Pola komunikasi yang ia emban di masa lalu. Pendidikan emosional yang timpang. Ekspektasi sosial yang menempatkan satu pihak sebagai pengelola emosi, dan pihak lain sebagai penerima manfaat.
Dalam konteks itu, orang yang memilih mencintai lagi dengan sungguh-sungguh sering kali justru dicurigai. Terlalu cepat, katanya. Terlalu tak berperasaan, katanya. Seolah kehati-hatian hanya sah jika diwujudkan dengan sinisme.
Aku memilih jalan yang berbeda. Mencintai dengan Niat, Bukan dengan Trauma.
Aku masuk ke hubungan baru bukan dengan asumsi bahwa aku sudah “sembuh total”. Aku masuk dengan kesadaran bahwa aku bertanggung jawab atas sejarahku sendiri. Bahwa apa yang gagal dulu adalah bahan belajar, bukan barang bawaan yang harus dipikul bersama.
Mencintai dengan niat berarti menyadari batas. Mengetahui kapan harus jujur, dan kapan harus memproses sendiri. Mengetahui bahwa keintiman bukan soal membuka semua luka, melainkan soal hadir dengan versi diri yang paling jujur dan paling utuh saat ini.
Aku masih ragu. Aku masih belajar. Ada hari-hari ketika masa lalu terasa dekat—bukan untuk ditangisi, tapi untuk diingat sebagai pengingat bahwa aku pernah tumbuh dari sana.
Dan itu tidak membuat cintaku hari ini kurang valid.
Aku tidak percaya konsep “jatah cinta”. Yang berubah bukan kapasitas mencintai, melainkan cara kita melakukannya. Yang berakhir bukan cinta, tetapi pola lama yang tidak lagi relevan.
Setiap hubungan—bahkan yang gagal—memberi pengetahuan tentang batas, tentang komunikasi, tentang kehadiran.
Pengetahuan itu tidak membuat kita lelah. Justru membuat kita lebih bertanggung jawab.
Cinta sebagai Praktik, Bukan Mitos
Mungkin masalahnya bukan pada cinta yang dianggap habis, tetapi pada keengganan kita untuk melihat cinta sebagai praktik yang terus diperbarui. Kita lebih nyaman dengan mitos—bahwa cinta seharusnya spontan, intuitif, dan bebas konflik—padahal relasi yang sehat justru menuntut kesadaran, kerja emosional, dan refleksi terus-menerus.
Aku mencintai bukan karena aku melupakan masa lalu, tetapi karena aku tidak lagi bernegosiasi dengannya. Aku tahu apa yang ingin aku rawat, dan apa yang harus aku tinggalkan. Aku tahu bahwa pasangan tidak hadir untuk menyelamatkan atau menyembuhkan, melainkan untuk bertemu di titik yang setara.
Mungkin cinta memang tidak pernah habis. Yang sering habis adalah kesediaan kita untuk belajar dengan jujur, dan keberanian untuk mencintai dengan lebih bertanggung jawab dari sebelumnya.
Dan kalau pendekatan ini terdengar kurang romantis, itu tidak masalah. Barangkali memang sudah waktunya kita berhenti mengukur cinta dari intensitas cerita, dan mulai menilainya dari kualitas kehadiran.
Karena pada akhirnya, cinta bukan soal siapa yang datang pertama, tetapi siapa yang datang dengan kesadaran—dan memilih untuk tinggal dengan cara yang lebih manusiawi.
