Mengalahkan Fluktuasi

Cemas itu datang bagai hantu, bak monster di lemari yang datang kala aku masih bertubuh mungil. Cemas itu laik gemuruh halilintar di pagi melompong — merenggut kesadaran yang tadinya sedang baik-baik saja, merunjam hari Senin ke Sabtu. Oh, ya, kalau hari Minggu hantu cemas libur dulu.

Cemas itu sanggup merenggut tawa, yang semenit lalu tampak manis. Menukil ketakutan, yang setelah dewasa, aku tahu kalau itu namanya: Trauma. Cemas itu mengganti senyum lesung di pipi dengan tangis sesenggukan, sampai bahu bergeletar — saking terguncang.

Cemas hadir sebagai rentetan reaksi kimia di otak — konsekuensi yang tidak pernah aku minta.

Kecemasan datang dalam wujud overwhelming — kata orang, ia tidak perlu menunggu mentalku siap untuk menghadapi. Kadang ia muncul saat aku lengah dan merasa baik-baik saja, saat rutinitas berjalan seperti biasanya. Tapi kadang pula, ia datang ketika aku lelah dan berharap bisa menghela napas sebentar saja.

Sebagai ODB, aku mengenali pola ini sebagai fluktuasi. Kurva menanjak terjal, dan menukik curam. Lagi-lagi setiap gejala, tak menyisakan pretensi atau strategi tuk bersiap. Aku sudah sampai tahap cuma bisa mengelus dada, ini siklus hidup yang harus dijalani dengan ikhlas.

Aku membayangkan rutinitas hidup sebagai sebuah terminal. Mirip lalu lintas urban di tengah kota, sayangnya terminal di kepalaku ini serupa kelindan-kelindan emosi — yang tak tertata jadwalnya.

Kadang ada siklus emosi yang berangkat terlalu cepat, kadang ada yang pergi terlalu dini di pagi buta. Atau malah menetap lebih lama dan merusak banyak hal — seperti preman pasar. Di dalam terminal emosi ini, semua terkoneksi dengan sebab akibat, sebuah hubungan interpersonal dengan manusia lain, konsekuensi sebagai makhluk sosial. Ada yang sakit hati, ada yang benci, ada yang protes dan tak kembali, ada yang menuntut agar aku hidup lebih “normal” seperti manusia lainnya.

Ingin rasanya bilang, kalau aku tidak selalu punya kuasa untuk memilih mana emosi yang lebih baik, karena sirkuit otak ini bekerja berdasarkan regulasi kimia. Ingin rasanya menjelaskan, kalau tadi; kemarin; barusan saja, otakku defisit serotonin. Ia mengalami kekambuhan, serupa kemarau yang membuat ladang di kepalaku kering kerontang.

Namun, sungguh Tuhan Maha Adil. Tak ada musibah yang tak membuahkan hikmah, aku tak berjalan dan mengidap ini sendirian.

Ilmu psikologi menamai kondisi ini dengan istilah: Bipolar Disorder, dengan beragam komorbid yang menyertainya. Spektrum kejiwaan yang unik dan beragam pada setiap pengidap. Banyak yang mengalami, banyak yang berjibaku menghadapi, dan banyak pula yang sanggup kuat meregulasi gangguan suasana hatinya. Ini bukan soal watak, bukan pula soal kegagalan hidup sebagai manusia — yang maunya sih normal-normal saja. Ini tentang otak yang mengatur naik-turunnya emosi — dengan kurva yang terlampau ekstrim.

Penjelasan dariku ini tampak klinis dan ilmiah, tapi bagi penyintas dan pasien, ini adalah keseharian yang harus dihadapi — dengan mau tidak mau. Sesuatu yang sudah ada secara lahiriah di sistem tubuh kami, itu yang memengaruhi cara kami hadir di dunia ini — sebagai anak, sebagai ibu, sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai kekasih, sebagai warga masyarakat.

Pada fase fluktuasi — yang sering sekali disalahpahami orang — adalah ketika serangan cemas itu reda. Datanglah sebuah energi besar, yang menggelombang laksana tsunami. Sebuah fase manik. Cepat dan hebatnya mengubah perilaku pasien pada 180 derajat arah menanjak. Energi ini menunggangi kesadaran kami dengan sangat ekstrimnya. Pikiran bergerak cepat, ide terasa tak ada habisnya, tidur dianggap cuma opsional semata.

Publik sering melabeli fase ini sebagai kondisi diri yang produktif dan kreatif. Tapi di dalam mekanisme tubuh kami, cairan kimia bekerja lebih mirip percepatan tanpa rem pengaman. Bisa dibayangkan, bagaimana kendaraan ngebut menabrak sana-sini, tanpa pertimbangan kesadaran.

Di fase manik ini, setiap batasan rasanya tidak penting. Pagar penjaga, berupa nasihat diasumsikan sebagai pengekangan, seringnya malah memicu emosi dan amarah brutal. Kami merasa mampu menanggung semuanya sekaligus, seolah hidup ini punya target yang selalu dikejar dengan kecepatan penuh.

Ahli kejiwaan mengingatkan, kalau manik bukanlah fase mental yang sehat, melainkan bagian lain dari ketidakseimbangan kimia yang sama seperti cemas. Energi yang berlebihan ini bukan mukjizat atau anugerah yang harus disyukuri, melainkan ibarat sebuah pinjaman. Ya, namanya pinjaman, harus kami bayar di kemudian hari. Fase manik ini menuntut konsekuensi di akhir siklus, datang berupa gelombang depresi menghanyutkan. Tubuh bergerak lambat, pikiran gelap mengendap-endap, menyebarkan keputusasaan, hal-hal yang sebetulnya sederhana terasa berat untuk dijalani. Aku tahu, ini adalah respons sistem saraf yang kelelahan. Otak menarik kembali energi besar yang sebelumnya dipaksa keluar. Harga dari semua yang kemarin terasa luar biasa enerjik.

Di titik ini, terasa kalau yang kami jalani amat satir. Energi yang orang-orang puji sebagai sebuah anugerah, menjadi alasan bagi kami untuk menyalahkan diri sendiri. Seolah aku bisa mencegahnya kalau saja aku mengelola hidup dengan “lebih bijak”. Padahal siklus ini bukan soal pilihan tunggal, melainkan pola panjang yang terus berulang sepanjang hidup para ODB.

Lambat laun, aku memahami pola ini. Diagnosis, obat, terapi, dan rutinitas bukan tanda kelemahan yang harus aku bagul sepanjang hidup. Melainkan cara menjaga keseimbangan. Aku tidak bisa menghilangkan fluktuasi sepenuhnya — karena itu mustahil. Bagaimana caranya fluktuasi ini tidak menghancurkan hidup yang sedang aku jalani dengan suka cita.

Aku tidak sedang melawan takdir. Aku juga tidak menganggap kondisi ini sebagai death sentence. Ini adalah bagian dari hidup yang harus diterima, bukan untuk disesali, tapi untuk dinegosiasikan setiap harinya. Dengan batas, dengan kesadaran, dengan keberanian untuk berhenti dulu saat perlu.

Pada akhirnya, mungkin mengalahkan fluktuasi bukan berarti mengendalikan si suasana hati. Melainkan berdamai dengannya: tahu kapan harus menurunkan tempo, kapan harus meminta bantuan, dan kapan harus memaafkan diri sendiri kalau semua jadi hancur. Jika ritme yang dijalani ini memang bergerak naik dan turun dengan ekstrim, maka menerima iramanya — tanpa menyerah — adalah cara aku memenangkan kehidupan di dunia ini. Dengan ikhlas.

Pendongeng, Novelis, Esais, Naturalis.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *