Melihat Lebih Jernih Lewat Perjalanan ke Tiga Negara

Sejak lama, aku memang suka traveling. Buat sebagian orang, perjalanan mungkin hanya hiburan atau pelarian sejenak dari rutinitas. Tapi bagiku, perjalanan selalu menjadi cara untuk membaca ulang dunia dan membaca ulang diri sendiri. Sebagai seseorang yang gemar sejarah dan heritage, setiap kota bukan hanya kumpulan bangunan dan destinasi wisata, melainkan ruang arsip hidup yang menyimpan lapisan cerita.

Sepanjang tahun 2025, aku banyak menyusuri kota-kota di Jawa Timur, dari Madiun, Magetan, Ngawi, Nganjuk, Mojokerto, Surabaya, Malang, Kediri, Blitar, hingga Banyuwangi. Di Surabaya, Kota Tua dan kawasan Jembatan Merah mengingatkanku pada pertempuran 10 November 1945 yang menjadi salah satu momen penting dalam Revolusi Indonesia. Di Blitar, kompleks makam Soekarno selalu menghadirkan refleksi tentang bagaimana sejarah dan ingatan kolektif bangsa dirawat. Bahkan ketika aku tinggal di Denpasar, Bali, dan sempat berlayar ke Mataram di Nusa Tenggara Barat, aku kembali menyadari bahwa setiap wilayah di Indonesia punya akar sejarah panjang dari kerajaan Hindu-Buddha hingga jaringan perdagangan maritim Nusantara.

Namun, pertengahan Februari 2026 menghadirkan pengalaman berbeda: perjalanan ke tiga negara dalam satu minggu, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Trip ini terasa padat dan menguras energi, jauh berbeda dengan solo trip domestik yang biasanya lebih santai. Tetapi justru di kepadatan itu, aku merasa perspektifku semakin luas.

Di Malaysia, aku mengunjungi Putrajaya, kota administratif yang dibangun pada 1990-an sebagai simbol modernitas negara. Masjid Putra dengan kubah merah mudanya berdiri megah di tepi danau buatan, mencerminkan ambisi Malaysia sebagai negara Muslim modern. Dari sana aku menuju Malaka, kota yang sejak abad ke-15 dikenal sebagai pelabuhan penting dalam jaringan perdagangan Asia Tenggara. Di kota tua ini, jejak kolonial Portugis, Belanda, dan Inggris masih terasa kuat. Bangunan seperti Stadthuys, balai kota peninggalan Belanda abad ke-17—menjadi saksi bagaimana Malaka pernah berada di bawah kekuasaan VOC sebelum akhirnya direbut Inggris pada abad ke-19. Menyusuri Jonker Street dan kawasan Sungai Melaka seolah membuka kembali halaman-halaman sejarah tentang pertemuan budaya Melayu, Tionghoa Peranakan, India, hingga Eropa.

Perjalanan berlanjut ke Singapura. Negara kota ini mungkin identik dengan modernitas, tetapi sejarahnya juga berakar pada pelabuhan perdagangan sejak abad ke-19 ketika Sir Stamford Raffles mendirikannya sebagai pelabuhan bebas Inggris pada 1819. Di Merlion Park, simbol nasional Singapura yang menggabungkan kepala singa dan tubuh ikan, aku teringat narasi tentang “Singapura” yang dalam legenda berarti “kota singa.” Di Gardens by the Bay, taman futuristik yang merepresentasikan visi kota berkelanjutan, aku melihat bagaimana ruang hijau dirancang sebagai identitas nasional. Bahkan Changi Airport, yang berulang kali dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik dunia, menjadi contoh bagaimana infrastruktur bisa dibangun sebagai pengalaman budaya, bukan sekadar fasilitas transit.

Universal Studios Singapore memang menjadi ruang hiburan global, tetapi di balik itu, Pulau Sentosa sendiri memiliki sejarah militer sebagai benteng pertahanan Inggris pada Perang Dunia II. Lapisan-lapisan sejarah itu membuatku sadar bahwa modernitas tidak pernah benar-benar terlepas dari masa lalu.

Aku kembali ke Malaysia untuk singgah di Kuala Lumpur dan Batu Caves. Kuala Lumpur tumbuh dari kawasan pertambangan timah abad ke-19 hingga menjadi ibu kota federasi modern. Di Batu Caves, kompleks gua batu kapur yang menjadi situs penting bagi umat Hindu Tamil sejak akhir abad ke-19, berdiri patung Dewa Murugan setinggi lebih dari 40 meter, salah satu yang tertinggi di dunia. Tempat ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang spiritual dan simbol keberagaman Malaysia.

Perjalanan terakhir membawaku ke Hatyai, Thailand Selatan. Kota ini memiliki sejarah sebagai simpul perdagangan penting di kawasan Songkhla sejak awal abad ke-20, terutama setelah pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Thailand dengan Semenanjung Malaya. Vibes Hatyai terasa akrab, ramai, padat, tetapi hangat, mengingatkanku pada Bandung. Bahasa Melayu dan Thai bercampur, mencerminkan interaksi panjang lintas batas negara.

Di Hatyai, aku mengunjungi Wat Hat Yai Nai yang terkenal dengan Patung Buddha Tidur raksasa, salah satu yang terbesar di Thailand Selatan. Di kawasan Songkhla, Pantai Samila dengan patung “Golden Mermaid” menjadi ikon lokal yang terinspirasi dari legenda rakyat. Aku juga singgah ke kuil yang dikenal wisatawan Indonesia sebagai “Kuil Ular Putih,” serta menjelajahi ASEAN Night Market yang penuh warna dan dinamika ekonomi rakyat. Chang Puak Elephant Camp menghadirkan refleksi lain tentang relasi manusia dan satwa di Asia Tenggara, sebuah tema yang juga dekat dengan minatku pada sejarah ruang dan kota.

Dari setiap tempat yang kukunjungi, aku belajar bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Malaka mengajarkan tentang kolonialisme dan pertemuan budaya. Singapura menunjukkan bagaimana narasi masa lalu bisa diolah menjadi visi masa depan. Kuala Lumpur dan Batu Caves merepresentasikan keberagaman identitas. Hatyai memperlihatkan bagaimana perbatasan negara tidak selalu membatasi rasa kedekatan budaya.

Perjalanan ini bukan sekadar mengumpulkan foto Instagramable atau menandai negara di peta. Ia menjadi ruang kontemplasi, tentang identitas, tentang warisan sejarah, dan tentang bagaimana kita sebagai individu bergerak di antara narasi-narasi besar bangsa dan kawasan. Setiap jalan, setiap bangunan lama, setiap pelabuhan, setiap taman, selalu punya cerita. Dan ketika aku menjejakkan kaki di tempat-tempat itu, aku bukan hanya membaca sejarah mereka, tetapi juga menambahkan satu bab kecil dalam sejarah hidupku sendiri.

Singapura dengan modernitasnya, Malaysia dengan heterogenitas dan jejak kolonialnya, Thailand dengan kehangatan kota perbatasannya, semuanya membuatku melihat dunia dengan lebih jernih. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah makna perjalanan bagiku: bukan sekadar berpindah tempat, tetapi memperluas cara pandang.

Semoga suatu hari aku bisa kembali, tinggal lebih lama, dan menggali lebih dalam cerita-cerita yang belum sempat kubaca.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *