Male Validation: Ketika Penerimaan Laki-laki Masih Jadi Ukuran Nilai Diri

Kita tumbuh di budaya yang membuat penerimaan laki-laki terasa seperti bentuk tertinggi penghargaan. Tapi pada akhirnya, male validation justru membuat semua orang kehilangan kebebasan untuk jadi diri sendiri.

Ada masa di hidupku ketika aku merasa segalanya akan lebih mudah kalau aku “disukai”. Disukai guru, teman, lingkungan, tapi terutama—disukai laki-laki. Aku ingat betul bagaimana aku menyesuaikan diri: menahan pendapat agar tidak terlihat terlalu keras, tertawa secukupnya, berpakaian dengan cara yang aman. Aku pikir, kalau aku bisa terlihat “cukup manis”, aku akan diterima, dicintai, dan tidak akan sendirian. Tapi semakin aku berusaha menjadi versi yang diharapkan orang lain, semakin aku merasa jauh dari diriku sendiri. Aku belajar bahwa kadang, keinginan untuk disukai bukan tentang cinta—tapi tentang kebutuhan untuk diakui.

Dan di situlah aku mengenal istilah male validation.

Apa Itu Male Validation, dan Siapa yang Sebenarnya Terlibat di Dalamnya?

Istilah male validation sering muncul di media sosial, tapi maknanya lebih dalam dari sekadar
“ingin dipuji laki-laki.” Secara sederhana, male validation adalah ketika seseorang—biasanya perempuan—menilai dirinya berdasarkan pandangan laki-laki terhadapnya. Namun, male validation bukan hanya tentang perempuan yang ingin diakui laki-laki. Ia juga mencakup bagaimana laki-laki saling mengukur nilai satu sama lain lewat pandangan terhadap perempuan.

Perempuan mencari pengakuan agar dianggap menarik atau pantas dicintai. Sementara laki-laki sering kali mencari pengakuan dari sesama laki-laki, lewat siapa yang bisa “mendapatkan” perempuan paling menarik, paling ideal, paling sesuai dengan standar sosial. Dalam siklus itu, semua orang jadi bagian dari permainan yang sama—permainan yang tidak pernah benar-benar memberikan kemenangan.

Bentuk-bentuk Male Validation di Kehidupan Sehari-hari

Male validation muncul dalam bentuk-bentuk halus yang kita temui setiap hari. Seorang perempuan menahan diri untuk tidak terlihat “terlalu pintar” karena takut dianggap menakutkan. Temannya merasa perlu tampil sempurna di depan mantan, hanya agar tidak terlihat kalah. Seorang laki-laki menyembunyikan hubungan cintanya karena takut diejek teman-teman yang menilai pasangannya “biasa saja.” Di sisi lain, banyak laki-laki yang juga menyesuaikan diri agar terlihat “cukup maskulin”—tidak boleh terlalu lembut, tidak boleh terlalu ekspresif, tidak boleh terlalu jujur. Semuanya terjebak dalam upaya terus-menerus untuk mendapatkan pengakuan dari luar.

Padahal pengakuan itu sering datang dari standar yang bahkan tidak pernah mereka tentukan sendiri.

Ketika Cinta dan Penerimaan Jadi Ajang Pembuktian

Aku pernah menjalin hubungan di mana aku merasa dicintai, tapi tidak dibanggakan. Kami dekat, kami tertawa, kami berbagi banyak hal—tapi saat di depan orang lain, dia seperti berubah. Jaraknya terasa, sikapnya berbeda. Butuh waktu lama buatku sadar: bukan karena dia tidak sayang, tapi karena dia takut. Takut terlihat kurang “keren”, takut orang lain menilai pilihannya. Dan rasanya menyakitkan—dicintai dalam diam, tapi disembunyikan. Saat itu aku benar-benar paham bahwa male validation bukan hanya membuat seseorang kehilangan harga diri, tapi juga menggerogoti cara kita mencintai dan dihargai.

Tidak Hanya Perempuan yang Terdampak

Banyak laki-laki juga tumbuh dalam budaya yang menekan mereka untuk terus terlihat “kuat” dan “berhasil”. Mereka belajar sejak kecil bahwa menangis adalah kelemahan, kelembutan adalah kekurangan, dan perasaan harus disembunyikan. Tekanan itu membuat mereka sulit jujur pada diri sendiri. Mereka takut dicap “kurang jantan” kalau menunjukkan empati, takut “kalah saing” kalau
pasangannya lebih berprestasi, dan takut dihakimi kalau mengekspresikan hal-hal di luar standar “maskulinitas normal.” Padahal tidak ada yang salah dengan menjadi lembut, terbuka, atau rentan. Tidak ada yang salah dengan menjadi manusia seutuhnya.

Belajar Lepas dari Siklusnya

Melepaskan diri dari male validation bukan hal yang bisa dilakukan semalam. Butuh waktu untuk sadar bahwa penerimaan sejati tidak datang dari penilaian orang lain, melainkan dari cara kita mengenali nilai diri sendiri. Bagi perempuan, itu bisa berarti berhenti mengukur kebahagiaan dari seberapa disukai atau
diinginkan. Bagi laki-laki, itu bisa berarti memberi ruang pada sisi lembut, tanpa takut kehilangan rasa “jantan.”

Perlahan, kita bisa membangun dunia kecil di mana kejujuran, empati, dan keberanian untuk jadi diri sendiri lebih berharga daripada validasi siapa pun.

Male validation pada akhirnya bukan hanya soal perempuan dan laki-laki, tapi soal bagaimana kita tumbuh dalam budaya yang mengajarkan bahwa penerimaan orang lain adalah segalanya. Dan mungkin, langkah pertama menuju kehidupan yang lebih tenang adalah saat kita berhenti mencari pengakuan—dan mulai belajar menerima diri sendiri, dengan segala bentuknya.

Tulisan ini merupakan refleksi tentang bagaimana budaya validasi dari laki-laki memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan orang lain.

Berkarya di industri kecantikan sebagai praktisi pemasaran, dengan ketertarikan pada isu feminisme, relasi, dan pengalaman perempuan di ruang sehari-hari. Minat menulisnya tumbuh sebagai proses belajar—merekam kegelisahan, mengamati tubuh, citra, dan emosi yang kerap dibentuk oleh budaya populer. Baginya, menulis adalah cara memahami dunia secara perlahan, tanpa harus selalu tiba pada jawaban.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *