Aku Telah Gagal di Awal Tahun

Lantunan wajan dan sutil memeriahkan penyambutan fajar. Diiringi dengan semerbak aroma gurih dan hangat menyeruak memadati ruang penyaji makanan. Sementara itu si Jago tak lagi berkokok dari peraduannya. Padahal, mentari sudah siap menantang dari ufuk timur. Pantas saja mereka tak lagi bersahutan mengadu irama siapa yang paling lantang. Rupanya, ibuku mengakhiri hidup mereka kemarin sore, lalu menyajikannya dengan kuah kuning sebagai sarapan.

Biasanya, akulah yang sibuk bertarung di dapur. Dengan pisau di tangan kanan dan bahan makanan di tangan kiri. Aku memproses, menata, dan memastikan hidanganku lezat dan bergizi. Kalaupun hari itu adikku ingin makan sesuatu yang tidak bisa kusajikan karena kemampuan masakku yang terbilang biasa saja, aku dan ibuku akan bertukar peran. Cucian baju itu, aku yang akan kerjakan.

Tapi, ini sudah pukul 6 pagi. Aku masih terbujur di atas ranjang. Kupandangi alat pengukur waktu yang menancap di sebelah natang. Bagaimana kusadari ia kian berpacu. Dari detik, ke jam, ke hari, ke bulan, ke tahun. Jantungku berdetak di setiap waktu. Gundah menggugah sesak dalam dadaku. Bukankah aku sudah berjanji, akan melakukannya hari ini?

Kupandangi ruang sekitar. Meja, kursi, televisi, lemari, semua tetap sama seperti 5 tahun yang lalu. Semua tidak bertumbuh ataupun beranak. Hal yang membuatku sadar bahwa aku tetap, tak bergerak, tak mekar, dan tak ke mana-mana.

Kucoba menarik napas dan memejamkan mata hingga gelap mengerubungiku. Sesak, aku sulit bernapas.

Lima…

Empat…

Tiga…

Dua…

Satu…

Sialan! Ini tak lagi bekerja. Biasanya ketika energi menyusut dalam ragaku, hitungan mundur merangsangnya untuk mulai bergerak maju. Tapi ini tidak bekerja, semua sistem sudah tidak bekerja. Cukup frustrasi aku dibuatnya. Aku yang membuatnya. Atau aku yang menerima apa pun untuk dibuat?

“Ting…”

Telepon genggamku berdering menandakan seseorang baru saja berbagi pesan. Sekilas kubaca pemberitahuan itu. Namun, tak lama langsung kuletakkan kembali benda persegi mini itu di samping bantalku. Pikirku akan kubalas nanti. Tapi aku tahu, kata nanti bagiku akan menjadi 10 tahun lamanya.

Sepuluh tahun aku kesulitan membalas pesan. Pesan dari ibuku, pesan ayahku, pesan dari adikku, pesan bibiku, pesan tetanggaku, pesan Pak RT, pesan pak Ustaz, pesan atasanku, pesan rekan kerjaku, pesan dari brand, pesan kolaboratorku, pesan pelangganku, pesan dosenku, pesan kolegaku, pesan orang pajak, pesan temanku, pesan gebetanku, dan pesan mantan kekasihku.

Sebentar, kupikir dulu. Kata apa yang paling pas untuk menggambarkan apa yang aku rasa saat aku sulit membalas pesan? Capek? Putus asa? Hampa? Terbebani? Lupa? Bingung? Cemas? Takut? Cukup! Yang jelas kupastikan, aku tidak berusaha menghindar!

Bisa kubilang, aku kehilangan banyak kesempatan karena aku kesulitan membalas pesan. Ahhh… lebih tepatnya, ketidakhadiranku.

Namun, perkara pesan pula aku jadi tahu, mana yang akan tetap menerimaku tanpa tapi, mana pula yang akan pergi. Tapi semakin aku sadar aku tetap diterima sebagaimana adanya, semakin berat bebanku, semakin besar rasa bersalahku bahwa aku mengecewakan mereka dengan ketidakhadiranku.

Aku berani bersumpah, aku tidak bohong ketika aku bilang aku ingin hadir. Aku ingin menjadi tempat aman dan nyaman bagi orang lain. Aku ingin mendengarkan keluh kesah, suka cita, atau sekadar kabar orang. Aku ingin menjawab jika diminta saran. Aku ingin membantu jika dibutuhkan. Aku ingin berfungsi. Aku berempati. Hanya saja sulit bagiku untuk mengimbangi, sulit bagiku untuk hadir sampai akhir. Sesuatu yang dipikir banyak orang sangat mudah untuk dilakukan.

Tapi kesulitan membalas pesan bukanlah satu-satunya masalah dalam hidupku. Lebih, aku kesulitan menjalani hidup sehari-hari. Sulit bangun di pagi hari, sulit membantu ibuku, sulit olahraga, sulit mandi, sulit merawat diri, sulit salat, sulit datang kerja pagi, sulit menyelesaikan pekerjaan, sulit menyulam, sulit membaca, sulit menulis, sulit melukis, sulit bermain ukulele, sulit bersosialisasi, sulit meminta bantuan, sulit mengatakan apa yang aku rasa, sulit membangun komitmen, sulit turun berat badan, sulit berhenti mencabuti rambutku, sulit mengimbangi, sulit hadir, sulit mengatakan iya, sulit mengatakan tidak, sulit journaling, sulit grounding, sulit minum obat, sulit disiplin, sulit yakin, sulit termotivasi, sulit hidup, sulit rasanya sampai aku kehilangan makna sulit itu sendiri.

Lima tahun lalu aku berjuang mati-matian melawan depresi. Tiga tahun yang lalu aku dalam masa pemulihan. Sejak 2024 hingga hari ini aku dalam mode campuran — kondisi saat orang dengan bipolar mengalami fase manik dan depresi secara bersamaan. Aku tidak lagi terkejut saat aku kesulitan bangun dari tempat tidur, namun aku tidak dapat berbohong bahwa aku sudah muak mendengkur.

Tak jarang kudengar orang-orang bilang aku malas, bawel, cengeng, suka marah-marah, dan berlebihan — yang mana secara medis itu adalah ciri khas Orang Dengan Bipolar (ODB). Rasa muak sudah tak lagi tinggal di hatiku ketika mendengar penghakiman dari orang-orang. Lebih tepatnya, sekarang aku kebas secara emosional; ada kalanya saat berbagai emosi hadir secara bersamaan membuatku merasa mati rasa.

Saat aku berbicara pada orang terdekatku — secara tidak langsung aku meminta bantuan. Kebanyakan dari mereka akan memberiku solusi agar aku lebih semangat dan membandingkan hidupku dengan hidup mereka atau hidup orang lain yang lebih menderita dariku. Orang sekarang menyebutnya adu nasib. Lalu aku hanya akan tersenyum saat itu. Aku tidak berpikir itu jahat, aku tahu pasti sulit pula bagi mereka melewatinya dan secara bersamaan aku hanya paham bahwa mereka tidak tahu dengan apa yang mereka lakukan.

Kalau saja aku ditanya, apa yang aku butuhkan? Aku hanya ingin didengar dan divalidasi bahwa apa yang aku rasakan saat ini bukanlah sesuatu yang mengerikan. Bagaimanapun juga, semua akan berlalu. Aku sadar. Tapi entah bagaimana, kadang aku juga lupa dan kehilangan kontrol diri.

Rasanya lebih mudah bagiku untuk memendamnya dan berusaha membangun resiliensiku sendiri ketimbang harus mengungkapkannya. Bahkan aku bingung bagaimana harus berekspresi, aku bingung dengan apa yang aku rasa sesungguhnya.

Awal tahun dosis mood stabilizer-ku naik menjadi 750 mg. Dokter bilang, kondisi manikku sudah cukup mengkhawatirkan. Euforia berlebih, energi tinggi, mudah marah, banyak bicara, pikiran berpacu, percaya diri melambung tinggi, penurunan kebutuhan tidur, mudah terdistraksi, belanja berlebih, mudah mengambil risiko, mengerjakan berbagai macam pekerjaan sekaligus, dan kesulitan menyelesaikan pekerjaan.

Juga bersamaan dengan berbagai gejala depresi seperti merasa hampa bahkan putus asa, sedih berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, energi sangat rendah, perubahan nafsu makan, dan perubahan berat badan drastis, merasa tidak berharga/bersalah, serta pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Fase tersebut menciptakan kondisi yang membingungkan. Seringkali aku dalam posisi bagaimana rasanya memiliki banyak energi namun kehilangan minat. Atau punya banyak minat namun kehilangan energi. Hal tersebut menciptakan rasa putus asa namun secara bersamaan aku juga merasa penuh euforia. Aku merasa hidup secara fisik, namun tidak berfungsi secara emosional. Atau aku merasa tubuhku mati tapi fantasiku bebas berkeliaran.

Jangan kira aku tidak berusaha. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk membangun resiliensi. Mulai dari hal kecil seperti membicarakan kegelisahanku kepada orang terdekat, journaling, grounding, bersosialisasi, berolahraga, somatic experience, hingga mendapatkan bantuan profesional. Namun semua tampak sia-sia hingga aku tidak melakukan apa pun sekarang.

Bukankah aku sudah berjanji akan melakukannya hari ini? Bukankah aku sudah bilang kemarin bahwa transisi kecil secara bertahap akan lebih cocok bagiku? Bukankah aku sudah mengubah to-do-list menjadi could-do-list? Sistem ini tidak berfungsi atau aku yang gagal berfungsi? Atau aku kurang sabar? Atau aku kurang berserah diri? Atau aku tidak bersyukur?

Rasanya tidak adil pula bagi diriku untuk terus aku cecar. Bagaimanapun aku masih ingat, aku pernah berfungsi sebagaimana mestinya. Aku pernah bangun di pagi hari, aku pernah membantu ibuku, aku pernah olahraga, aku pernah mandi, aku pernah merawat diri, aku pernah salat, aku pernah datang kerja pagi, aku pernah menyelesaikan pekerjaan, aku pernah menyulam, aku pernah membaca, aku pernah menulis, aku pernah melukis, aku pernah bermain ukulele, aku pernah bersosialisasi, aku pernah meminta bantuan, aku pernah mengatakan apa yang aku rasa, aku pernah membangun komitmen, aku pernah turun berat badan, aku pernah berhenti mencabuti rambutku, aku pernah mengimbangi, aku pernah hadir, aku pernah mengatakan iya, aku pernah mengatakan tidak, aku pernah journaling, aku pernah grounding, aku pernah minum obat, aku pernah disiplin, aku pernah yakin, aku pernah termotivasi, aku pernah hidup, aku pernah menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Kata pernah yang membuatku yakin bahwa semua mungkin untuk dilakukan kembali. Tak apa jika bukan hari ini. Mungkin nanti, bukan nanti yang 10 tahun lamanya. Tapi nanti yang kupikir tak mengapa.

Ahhh… sudah pukul 9 pagi. Aku telat datang kerja pagi lagi.

Pengrajin sulaman tangan, konten kreator, dan KOL yang aktif di dunia kreatif dan digital. Selain menjadi supervisor di brand fashion lokal Bandung, ia juga mengelola bisnis sulaman tangan yang karyanya sudah menembus pasar internasional. Cici kerap membagikan keterampilannya lewat workshop kreatif, mengajak peserta mengekspresikan diri, melepas stres, dan merayakan kreativitas.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *