Kertas, Kewarasan, dan Jurnal Frankenstein

Dua puluh tahunan lebih bergelut di dunia digital rupanya tidak sedikit pun melunturkan kecintaan saya pada wujud fisik kertas. Terkadang, aplikasi to-do list secanggih apa pun atau task manager lintas device (yang kalau server-nya down suka bikin panik itu) tetap tidak bisa menggantikan kenyamanan dan kebiasaan saya yang masih sering bersandar pada medium fisik sebuah buku tulis.

Foto-foto ini adalah salah satu buktinya.

Buku tebal berbalut cokelat kusam dengan aksen putih di tepiannya ini menjadi jurnal sekaligus teman setia selama masa pandemi kemarin. Kurun 2020 hingga 2023, ketika mobilitas semua orang terhenti #dirumahsaja, buku ini justru terasa sangat esensial. Absennya keharusan untuk terus-menerus melakukan sinkronisasi dokumen antar-perangkat, membuat kehadirannya sangat fungsional tanpa ada distraksi notifikasi.

Demi efisiensi — karena tumpukannya lumayan tebal — saya berinisiatif merancangnya agar bisa digunakan di kedua sisi. Sebuah format membolak-balik orientasi buku layaknya kartu remi reversible.

Satu sisi saya khususkan untuk MoM (Minutes of Meeting), mengingat nyaris seluruh interaksi saat itu beralih menjadi pertemuan daring. Sementara sisi baliknya menjadi Notes, tempat saya mencatat apa pun yang melintas di kepala, terutama dinamika pekerjaan. Buku ini menjelma menjadi backlog saya yang paling ampuh.

Khawatir menyusahkan saat harus mencari catatan spesifik? Sama sekali tidak. Berbekal sticky notes sebagai bookmark, ditambah memori dan intuisi pelacakan yang ternyata tak kalah tajam dari mesin pencari otomatis, semuanya aman terkendali. Finder di laptop mah lewat, saya pakai “Ctrl+F” jalur gaib alias ingatan. haha.

Tapi maafkan jika melihat wujud fisiknya yang sudah babak belur. Harap dimaklumi.

Pertama, buku ini saya bolak-balik nyaris setiap hari selama tiga tahun penuh. Kalau dia karyawan, mungkin dia sudah resign dari tahun kedua.

Kedua, ini murni bikinan sendiri, bukan keluaran pabrik stationery ternama. Saya pernah bercerita tentang hobi DIY moleskine dan book binding saya, bukan? Nah, ini salah satu hasil kriya tangan tersebut.

Dulu, setiap akhir semester, anak-anak saya selalu menyisakan banyak buku tulis karena naik kelas. Tentu tidak semua halamannya terisi penuh. Daripada terbuang percuma, lembar-lembar kosong yang belum tersentuh itu saya kumpulkan, dedel, dan satukan kembali. Saya lem tepiannya, saya jilid manual, saya beri sampul, hingga akhirnya mewujud menjadi beberapa buku tulis tebal.

Sisa-sisa yang tadinya dianggap usai ternyata masih bisa diselamatkan. Buku lama, rasa baru.

Mungkin terkesan medit, haha. Daripada sekadar membeli buku tulis baru yang sebetulnya mudah didapat, saya justru memilih jalur hardcore untuk “merepotkan” diri sendiri. Tapi ya itu, tentu saja saya tidak merasa kerepotan. Karena saya tahu, proses memotong, mengelem, dan menjilid ini adalah sebuah mental grounding; dan tidak ada proses grounding yang terasa merepotkan.

Lalu, apa poin dari cerita pamer buku lecek ini?

Saya sekadar ingin berbagi pengingat, terutama untuk diri sendiri. Di tengah dunia kerja kita yang makin borderless, serba-cloud, dan disetir oleh algoritma, kita kadang tetap butuh sesuatu yang nyata dan berwujud untuk menjaga ritme. Sebuah ruang analog di mana kita punya kendali penuh, sebuah “jangkar” fisik untuk menyerap stres digital kita.

Pekerja penuh waktu, penyunting paruh waktu | Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif "Melihat Lebih Jernih", sebuah gerakan mindfulness yang mengajak publik menemukan ruang rehat dan pulih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *