Di depanku, ibu sedang tersenyum. Wajahnya berseri dan tidak menampakkan amarah. Matanya berbinar, tubuhnya menjulang tinggi. Ibuku punya ukuran sepatu yang sama denganku, tubuhku juga sama tingginya, hanya saja aku lebih pemalu dan pendiam. Aku tidak pernah berpikir ibu akan meninggalkanku, sebab seperti yang kutahu sejak kecil: tiada yang tulus selain cinta ibu, dan tiada yang abadi selain kasih sayangnya. Namun, karena itu pula aku menyimpan banyak kecemasan dan beribu pertanyaan untuk ibu.
Aku ingin bertanya perihal cinta, hidup, dan keberanian. Bu, aku tidak tahu mengapa aku dilahirkan, tetapi aku tahu bahwa terciptanya aku adalah karena cinta dan kebahagiaan. Aku tidak ingin menyalahkanmu hanya karena cinta yang tersemai tak sempurna; aku tidak ingin menyalahkanmu hanya karena aku sedang ingin menyerah. Namun, bagaimana caranya agar aku bisa sekuat ibu? Fase mendewasa ini terasa begitu sesak—bukan hanya tentang masa depan, tetapi juga tentang bagaimana aku menemukan dan menyadari bahwa yang kupunya hanyalah diri sendiri. Bukan ibu, bukan mereka, bukan siapa-siapa. Ibu tak pernah memberiku peta; sedari kecil ibu hanya mengajariku menunggu. Menunggu ibu pulang ke rumah, kembali dari pasar, atau menunggu ibu yang entah pergi ke mana seusai bertengkar dengan bapak. Bu, apakah kehidupan orang dewasa itu memang sangat mengerikan?
Kini, mata ibu tak lagi berbinar. Wajahnya menua, energinya kian terkikis, sementara aku masih begini-begini saja. Ibu tahu, sejak kecil aku tidak pernah banyak meminta; aku lebih banyak diam dan mengangguk. Ibu hanya mengenalku sebagai perempuan jutek, ibu hanya tahu bahwa duniaku sebatas sepetak ruang kamar, ibu hanya melihatku bangun siang, ibu hanya tahu bahwa aku hidup sekadar untuk hidup. Ibu tidak tahu bahwa aku menyimpan luka, ibu tidak tahu bahwa aku kebingungan, ibu tidak tahu bahwa aku tak pernah mengerti bentuk cinta yang benar-benar tulus selain cinta ibu. Ibu tidak tahu. Ibu benar-benar tidak tahu. Namun, aku tahu bahwa ibu juga tidak memahami dirinya sendiri. Ibu pun punya luka, trauma, dan kebingungan. Andai saja semua itu bisa dipindahkan, biarlah semua yang ibu rasakan menjadi milikku saja.
Setelah lulus kuliah dan menjadi pengangguran, aku tidak tahu lagi apa yang semestinya kulakukan. Aku tak menyangka mencari pekerjaan ternyata sulit; surat-surat lamaran itu hanya menumpuk dan menjadi abu. Sastra yang kucintai terasa semakin jauh, puisi-puisi yang menjadi pelipur lara kini entah ke mana. Menjadi dewasa membuatku kaku dan tidak asyik. Aku sibuk menata segala hal yang ada di dalam diri—benar-benar membongkarnya, lalu menatanya kembali. Berharap, mudah-mudahan kelak ada serpihan nasib baik yang menjadi milikku. Aku juga tidak menyangka bahwa di usia sedewasa ini, aku masih harus menunggu. Menunggu cinta, menunggu takdir, menunggu nasib, dan menunggu ibu pulang ke rumah. Ibu terasa semakin jauh; ibu benar-benar terjun ke dalam peperangan hidup. Ibu terlihat kuat, namun batinnya rapuh. Ibu tampak baik-baik saja, padahal jiwanya berdarah. Ibu berani bertaruh untuk anak-anaknya, ibu berani mati demi anak-anaknya. Kasihan sekali ibu. Maafkan aku, Bu.
Hidup ini sekadar sekumpulan benang merah yang kusut, entah di mana ujungnya—apakah berujung pada kebahagiaan atau kematian. Hidup ini begitu berat untuk ibu. Semoga ibu kelak menemukan apa yang selama ini semestinya menjadi milik ibu; semoga ibu tidak kehilangan dirinya sendiri. Aku ingin ibu selamanya ada bersamaku. Aku percaya kasih ibu memang sepanjang masa, dan aku tahu bahwa ibu tidak akan pernah meninggalkanku. Aku selalu menunggu dan berlari, persis seperti yang ibu lihat belasan tahun lalu. Aku masih anak-anak, Bu. Aku akan selalu membutuhkan ibu.
