Sudahkah kamu memberi ruang untuk “ketidaksempurnaan” di dalam aktivitasmu hari ini?

Dari dulu, jauh sebelum istilah journaling atau ransom note ramai seperti sekarang, saya sudah suka sekali mencari-cari huruf di majalah, memotongnya, dan kemudian mengoleksi. Ada kepuasan tersendiri saat mencium aroma khas kertas cetak, membolak-balik halaman majalah bekas yang warnanya mulai menguning, dan berburu tipografi yang unik. Dulu, gaya ransom note mungkin identik dengan hal-hal berbau kriminalitas—seperti surat ancaman penculikan tanpa identitas di film-film detektif klasik. Namun, dalam kacamata seni dan journaling, teknik ini—yang sering juga terpengaruh oleh semangat pergerakan seni Dadaisme yang anti-kemapanan atau kultur zine punk era 80-an yang do-it-yourself—berubah menjadi medium berekspresi yang sangat membebaskan. Ini adalah cara merekonstruksi makna dari puing-puing huruf yang dibuang.

Tapi sering kali, keseruan saya justru berhenti di situ—di proses mencari dan menggunting—bahkan sebelum huruf-huruf itu sempat ditempel menjadi kata. Proses “berburu” itu punya magisnya sendiri. Mata saya seolah diajak bermain petak umpet dengan deretan teks. Terkadang, menemukan huruf ‘a’ kapital dengan jenis font serif tebal berwarna merah menyala terasa seperti menemukan harta karun kecil di tengah lautan artikel yang membosankan. Sayangnya, kegembiraan organik itu dulu sering kali dirusak oleh standar saya sendiri.

Dari dulu saya selalu merasa hasil guntingan itu harus rapi. Sisinya harus bersih, kotaknya harus presisi, tidak boleh ada sisa warna atau potongan huruf lain yang ikut terbawa. Saya bisa menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk menahan napas demi satu tarikan gunting yang lurus. Tangan saya sering kali menjadi kaku karena terlalu keras memegang gagang gunting, berusaha memastikan tidak ada milimeter kertas pun yang melenceng dari garis imajiner yang saya buat. Kalau salah potong sedikit saja, saya rela membuang huruf itu dan mulai mencari dari awal. Melelahkan sekali, sebenarnya.

Sampai suatu hari, dari feed Instagram, saya melihat potongan ransom note milik orang lain dengan hasil yang asal gunting, seolah-olah tanpa beban, seadanya saja, just as it is. Di tengah lautan konten media sosial yang sering kali dikurasi sedemikian rupa agar terlihat estetis dan tanpa celah, sebuah karya yang “berantakan” itu justru menyita perhatian saya dan membuat saya tertegun. Potongan-potongan kertasnya dibiarkan tidak beraturan, ada yang pinggirannya sobek karena tarikan yang kasar, dan ukurannya pun sama sekali tidak seragam satu sama lain.

Saya jadi tersadar: guntingan ransom note itu memang tidak harus sempurna, kok. Kerapian yang saya kejar selama ini justru saya pikir jadi beban yang tidak perlu. Tidak masalah kalau ada “ekor” huruf lain yang ikut terpotong, atau bentuknya jadi miring, menyerempet sana-sini. Lagipula, bukankah esensi dasar dari ransom note art adalah kekacauan yang disatukan? Menggabungkan elemen-elemen majemuk yang tidak saling berhubungan menjadi satu harmoni visual baru justru membutuhkan kelonggaran aturan. Keacakan itulah yang memberinya nyawa.

Karena sadar atau tidak, saat saya mulai berhenti menuntut hasil yang rapi, saya malah menemukan hal lain: fokus dan ketenangan. Suara kertas majalah tebal yang terpotong perlahan oleh bilah besi—kres, kres, kres—berubah menjadi sebuah ritme kecil yang meditatif. Saya tidak lagi memikirkan seberapa cantik hasil akhirnya nanti di atas lembar jurnal saya. Yang saya lakukan justru benar-benar menikmati detik demi detik bilah itu membelah serat-serat kertas. 

Sebagai orang yang punya ketakutan terhadap benda tajam (atau tepatnya runcing), memegang gunting itu sebenarnya tantangan besar. Biasanya, ada rasa was-was alami dan alarm kecil di kepala setiap kali benda dingin ini berada di tangan saya. Mata saya pasti memicing. Ada dorongan bawah sadar untuk segera menyelesaikannya agar saya bisa menjauhkan benda itu dari jangkauan pandangan.

Tapi kali ini, karena saya tidak lagi fokus pada “harus rapi”, gunting yang tajam itu justru membantu saya untuk melawan rasa takut. Saya jadi lebih sadar dan hadir penuh di setiap gerakan tangan, belajar untuk tetap tenang di tengah sesuatu yang tadinya membuat was-was. Alih-alih melihat gunting sebagai sebuah potensi ancaman, saya mulai melihatnya sekadar sebagai alat bantu, perpanjangan tangan yang secara tak terduga memandu saya melepaskan ekspektasi berlebih. Ketajaman yang biasanya membuat nyali saya ciut, bahkan membuat mata saya berair, kini justru menjadi medium jangkar untuk memusatkan mindfulness saya hari itu.

Dan lebih dari itu, saya jadi belajar untuk merayakan ketidaksempurnaan. Huruf yang terpotong miring atau masih ada sisa “sampah” di pinggirnya ternyata malah punya karakter yang jauh lebih kuat dan jujur. Potongan yang terkesan “cacat” itu justru menceritakan proses campur tangan manusia di baliknya, bukan sekadar hasil cetakan mesin pemotong pabrik yang presisi namun tanpa jiwa. Ada keindahan dan keunikan tersendiri dalam asimetri tersebut, sebuah pengingat lembut bahwa dalam hidup pun, hal-hal yang berjalan sedikit keluar jalur sering kali memberi ruang cerita yang lebih berkesan.

“Melihat Lebih Jernih” bagi saya hari ini adalah sesederhana ini: Kejernihan tidak datang dari seberapa rapi hasil akhir yang kita buat, tapi dari keberanian untuk melepaskan tuntutan “harus sempurna”.

Karena ternyata, saat tangan berhenti dipaksa untuk presisi, pikiran justru punya ruang untuk benar-benar istirahat.

Jadi, sudahkah kamu memberi ruang untuk “ketidaksempurnaan” di dalam aktivitasmu hari ini?

Pekerja penuh waktu, penyunting paruh waktu | Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif "Melihat Lebih Jernih", sebuah gerakan mindfulness yang mengajak publik menemukan ruang rehat dan pulih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *