Kita tumbuh di budaya yang memuji ketahanan, tapi jarang bertanya tentang kelelahan. Budaya yang mengajarkan bahwa selama seseorang terlihat “baik-baik saja”, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan sering kali, perempuan—terutama anak sulung—menjadi kelompok yang paling cepat disematkan label itu: kuat, mandiri, bisa diandalkan.
Aku baru menyadari di awal 2026 bahwa tubuhku lebih jujur daripada narasi hidup yang selama ini aku bangun. Secara objektif, tahun 2025 bukan tahun yang buruk. Aku mengalami cinta yang sehat. Aku tertawa, merasa aman, dan dicintai dengan cara yang tidak menyakitkan. Di satu sisi hidupku, semuanya terasa cukup.
Namun, di sisi lain, aku tetap memikul peran yang sama: menjadi yang paling bisa mengerti, paling cepat menyesuaikan diri, dan paling jarang dimintai kabar. Aku bahagia—tapi juga lelah. Dan dua hal itu bisa hadir bersamaan.
Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kuat adalah bentuk kedewasaan. Bahwa tidak merepotkan adalah cara bertahan. Bahwa semakin sedikit aku membutuhkan, semakin kecil kemungkinan aku ditinggalkan. Tanpa pernah benar-benar disadari, aku belajar menata diri agar selalu terlihat mampu. Bukan karena aku tidak ingin dirawat, tetapi karena aku tidak yakin ada ruang untuk itu.
Di situlah aku mulai memahami bahwa “perempuan kuat” bukan sekadar identitas personal, melainkan hasil dari struktur sosial.
Apa Itu Narasi Perempuan Kuat, dan Mengapa Ia Terasa Membebani?
Narasi perempuan kuat sering dibungkus sebagai pujian. Ia terdengar progresif, bahkan membanggakan. Namun, di balik itu, ada ekspektasi yang jarang dibicarakan: bahwa perempuan yang kuat seharusnya tahan banting, tidak banyak mengeluh, dan mampu mengelola emosinya sendiri—tanpa terlalu mengganggu orang lain.
Dalam keluarga, anak sulung sering dianggap otomatis dewasa. Dalam pekerjaan, perempuan yang cekatan diasumsikan selalu sanggup. Dalam pertemanan, yang “paling stabil” sering menjadi tempat bersandar, tetapi jarang disandari.
Kekuatan, dalam konteks ini, bukan lagi pilihan. Ia menjadi kewajiban.
Dan seperti male validation, narasi ini tidak hanya menekan satu pihak. Ia menciptakan sistem di mana empati dialirkan secara tidak merata. Yang terlihat rapuh diberi perhatian, sementara yang terlihat kuat diminta terus bertahan.
Bentuk-bentuknya dalam Kehidupan Sehari-hari
Seorang perempuan yang kelelahan, tetapi memilih berkata “nggak apa-apa” karena sudah terlalu sering menjadi tempat bergantung.
Seorang anak sulung yang merasa bersalah saat ingin istirahat, seolah lelah adalah bentuk kegagalan.
Seorang pekerja yang diapresiasi karena selalu bisa, tetapi tidak pernah ditanya apakah ia masih sanggup.
Di sisi lain, ada tekanan untuk selalu tampil kompeten—tidak boleh terlalu emosional, tidak boleh terlalu butuh, tidak boleh terlalu bergantung. Bahkan ketika bantuan tersedia, banyak dari kita tidak tahu cara menerimanya tanpa merasa tidak enak.
Semua ini berlangsung pelan-pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari tubuh mulai bereaksi lebih cepat daripada pikiran.
Ketika Bertahan Hidup Disalahartikan sebagai Keberhasilan
Aku pernah berada di fase hidup di mana semuanya terlihat berjalan. Pekerjaan aman, hubungan hangat, kehidupan sosial ada. Namun, di dalam diri, ada kesepian yang sulit dijelaskan—bukan karena tidak dicintai, melainkan karena terlalu lama dicintai dalam versi “yang selalu kuat”.
Saat itu aku sadar: dicintai bukan berarti didukung sepenuhnya. Diperlukan keberanian—baik dari diri sendiri maupun dari sekitar—untuk mengakui bahwa orang yang terlihat paling mampu pun tetap membutuhkan ruang aman.
Dan budaya kita belum sepenuhnya ramah pada pengakuan itu.
Tidak Semua Orang Punya Akses untuk “Menjadi Lemah”
Perlu diakui bahwa tidak semua orang memiliki ruang yang sama untuk menunjukkan kerentanan. Kelas sosial, posisi kerja, dan relasi keluarga sering kali menentukan siapa yang boleh runtuh dan siapa yang harus tetap berdiri. Dalam konteks itu, “kekuatan” sering kali bukan pilihan moral, melainkan strategi bertahan.
Karena itu, membicarakan kelelahan bukan berarti menolak tanggung jawab. Ia justru upaya untuk melihat hidup dengan lebih jujur.
Belajar Membayangkan Hidup yang Lebih Layak
Di 2026 ini, aku tidak sedang berambisi menjadi versi diri yang lebih kuat. Aku justru ingin hidup yang lebih layak. Hidup di mana istirahat tidak harus didahului pembuktian. Di mana dukungan tidak menunggu krisis. Di mana relasi—baik kerja, keluarga, maupun pertemanan—tidak berdiri di atas asumsi sepihak.
Aku ingin tetap mampu, tetapi juga boleh lelah. Tetap bertanggung jawab, tetapi tidak sendirian. Tetap mandiri, tanpa harus meniadakan kebutuhan untuk dirawat.
Mungkin ini bukan resolusi yang besar. Namun, seperti halnya melepaskan male validation, melepaskan glorifikasi kekuatan juga adalah proses pelan yang politis dengan caranya sendiri.
Karena hidup yang baik bukan hanya tentang seberapa lama kita bertahan, tetapi juga tentang seberapa manusiawi cara kita hidup di dalamnya. Tulisan ini merupakan refleksi tentang bagaimana narasi “perempuan kuat” dibentuk dan sekaligus membebani—serta bagaimana kita bisa mulai membayangkan cara hidup yang lebih adil bagi diri kita sendiri dan satu sama lain.
