Di Ruang Antara

Tidakkah 2025 terasa mengambang, melelahkan, dan kering secara emosional? Seakan ada
kosa-emosi yang hilang, sesuatu yang perlahan tergerus di dalam diri, terkikis sedikit demi
sedikit. Awalnya pengalaman ini terasa personal. Namun melalui percakapan yang berulang,
semakin jelas bahwa banyak dari kita ternyata sedang berada di fase yang sama.

Sepanjang 2025, saya—dan mungkin juga kita—kerap terjaga di malam hari. Di jam-jam sunyi
itu, hidup terasa ganjil. Di sekitar kita, ada orang-orang yang terus bergerak di lintasan
pembuktian: mengejar citra diri, target, prestasi, dan pengakuan. Sementara di sisi lain, ada
yang terjebak dalam ketidakpastian: finansial yang runtuh, masa depan yang buram, gangguan
kecemasan yang tak kunjung reda. Kondisi-kondisi ini melahirkan perasaan tertinggal yang sulit
disederhanakan sebagai kurangnya usaha atau kesalahan strategi.

Kita pun tahu, negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Bencana ekologis datang silih
berganti—banjir, kekeringan, dan kerusakan lingkungan. Kemalangan yang dulu hanya tampak
lewat siaran berita kini terasa begitu dekat dan nyata. Bahkan jauh sebelum tahun ini berakhir,
sekitar pertengahan tahun, banyak dari kita sulit mendapatkan ketenangan, terlebih ketika
dinamika politik memanas dan realitas sosial semakin kompleks.

Dalam situasi seperti ini, kekecewaan jarang muncul sebagai kemarahan. Justru lebih sering
hadir sebagai sikap waspada yang berlebihan: menahan diri, memilih diam, dan kesulitan
menyusun apa yang ingin disampaikan. Dari sana, jarak pelan-pelan tercipta antara diri dan
kehidupan di luar.

Atmosfer inilah yang agaknya terbawa hingga ke ambang pergantian tahun. Waktu bergerak
maju, sementara langkah terasa tertahan. Muncul kebingungan antara keinginan menutup
lembaran lama dan ketidakmampuan merayakan tahun baru di tengah banyaknya keresahan.
Suasana malam tahun baru 2026 terasa berbeda. Pergantian tahun yang biasanya diwarnai
euforia kini terasa hambar. Saya, dan mungkin banyak orang di luar sana, didera perasaan
tidak pantas untuk bersenang-senang. Pola-pola lama mulai ditinggalkan. Rasa nyaman sulit
ditemukan di tengah keramaian, sementara kesendirian pun menghadirkan tekanan yang tidak
ringan.

Sepertinya, kita sedang berada di fase antara—ketika yang lama mulai remuk, sementara yang
baru belum terbentuk. Dari kegelisahan itu, kesadaran perlahan bertumbuh sebagai upaya
memahami kembali cara hidup di dunia yang tak menawarkan banyak pilihan.

Barangkali, di ruang transisi ini, yang bisa dilakukan bukanlah tergesa mengejar kebaruan,
melainkan saling menguatkan. Memberi ruang bagi letih dan perasaan terasing, sekaligus
menahan diri dari reaksi-reaksi yang serba cepat. Dengan begitu, kita belajar melihat kembali apa yang sedang terjadi—pada diri, pada sesama, dan pada dunia—dengan lebih jernih dan
kesadaran yang lebih utuh, meski kita tahu banyak beban belum bisa sepenuhnya dientaskan.

Seorang penulis konten budaya dan jurnalis lepas yang menjadikan kebudayaan sebagai niche karyanya. Berpengalaman di jurnalisme perjalanan dan dokumenter. Kini tengah mengelola Arkhaika ID, media independen yang mengangkat narasi budaya bernuansa arkhais, serta masih mengerjakan kerja-kerja kepenulisan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *