Semua orang punya isu. Termasuk saya. Tapi butuh waktu lama bagi saya untuk mengakuinya.
Ada masa ketika hidup rasanya berjalan seperti ombak yang tidak bisa saya prediksi—naik perlahan, lalu tiba-tiba menghantam tanpa aba-aba. Hari-hari itu terasa penuh, bukan karena banyak hal baik yang terjadi, tapi karena saya tidak lagi punya ruang untuk bernapas. Saya merasakan kelelahan saya perlahan-lahan menyeret saya ke bawah, seperti bayangan yang awalnya tidak saya sadari, lalu tiba-tiba menelan terang yang biasanya saya andalkan.
Alih-alih mencari bantuan, saya memilih diam. Mungkin lebih karena saya merasa bingung harus mulai dari mana. Saya memendam rasa lelah itu, berharap ia reda dengan sendirinya. Kenyataannya, semuanya hanya menumpuk sampai suatu hari suara kecil di dalam diri saya mengatakan saya butuh bantuan. Saya hanya belum tahu bentuk pertolongan seperti apa yang saya butuhkan.
Langkah pertama saya, seperti banyak orang lainnya, sebenarnya cukup sederhana: saya hanya membuka apa pun yang ditawarkan media sosial.
Dari layanan psikologi yang profesional, hingga solusi-solusi cepat yang menawarkan jeda singkat dari penat. Semuanya terlihat menjanjikan, tapi tidak semuanya terasa cocok.
Yang profesional terasa begitu jauh; ada ruang dalam diri saya yang belum siap terbuka seluas itu. Pelarian kecil, di sisi lain, hanya menawarkan kenyamanan yang paling samar: seperti menutup mata dari cahaya yang terlalu terang, hanya untuk kembali silau beberapa detik kemudian.
Lalu, secara tak terduga, hal lain menghampiri saya: sebuah buku. Bukan buku self-help yang menjanjikan rumus pasti untuk bahagia, tapi sebuah memoar. Kisah tentang jatuh, rapuh, dan bertahan—disampaikan tanpa menggurui. Judulnya adalah Melihat Lebih Jernih oleh seorang teman lama, Foggy FF.
Membacanya seperti membuka jendela berdebu yang sudah lama tertutup. Belum ada kelegaan yang nyata atau menyembuhkan seketika, tapi cukup memberikan cahaya redup yang menempatkan saya di jalan untuk terus bergerak maju.
Saya merasa dibimbing dan tidak dihakimi. Dengan perasaan ini saja sudah berarti banyak.
Buku ini menghubungkan saya kembali dengan Mbak Foggy—iya, ketimbang teteh, saya lebih senang memanggilnya mbak. Kami berbicara panjang tentang sesak dan kelelahan dan cara-cara kecil untuk hadir kembali dalam hidup kita sendiri. Tidak ada solusi instan. Tidak ada resep pasti. Hanya ada kejujuran, kerentanan, dan kesediaan untuk berjalan perlahan.
Dari percakapan-percakapan itu saya belajar satu hal penting: jalan menuju kejernihan tidak harus sempurna. Ia boleh berantakan, asal jujur. Boleh lambat, asal kita tahu ke mana ingin melangkah.
Di sanalah muncul sebuah pikiran yang tak hilang-hilang — jika buku ini bisa memfasilitasi ruang aman bagi saya, mengapa tidak untuk orang lain?
Kami mulai memikirkan lebih banyak kemungkinan. Melihat Lebih Jernih tidak harus berhenti menjadi buku. Itu bisa berkembang menjadi ruang. Sebuah gerakan. Sebuah tempat bagi siapa pun yang mungkin sedang merasa seperti saya dulu: lelah, bingung, tetapi cukup penasaran untuk mencoba.
Gerakan itu muncul dari kegelisahan bersama: hidup yang terlalu cepat, hidup yang menuntut lebih, diri yang goyah di tengah kebisingan.
—
Setelah memperkenalkan gerakan ini di event Ruang Temu awal November kemarin, Melihat Lebih Jernih bisa dikatakan “resmi” menjadi ruang rehat—ruang untuk bernapas, pulih, dan didengar.
Kami ingin mewujudkannya dalam berbagai bentuk: tulisan, obrolan, program edukasi, karya kolaboratif, dan perjumpaan-perjumpaan kecil yang menyatukan orang-orang yang sedang mencari ruang aman.
Filosofinya sederhana: kami hanya ingin menemani, menjadi lampu kecil yang menerangi jalan bagi siapa pun yang ingin melihat hidup lebih jernih—dengan cara mereka sendiri, dalam waktu mereka sendiri.
Dan kami jauh dari selesai. Tapi kalau ada satu hal yang saya pelajari dari fase gelap hidup saya, itu adalah: setiap langkah kecil tetap berarti. Terutama ketika dilakukan dengan kesadaran dan kejujuran.
One thought on “Saat “Melihat Lebih Jernih” Menemukan Saya”